Menjadikan Jakarta sebagai rumah sendiri penting sebagai solusi untuk mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi warga Jakarta sendiri, seperti kebanjiran, kemacetan dan ketidaknyamanan.
"New York itu kota internasional, penduduknya bukan hanya orang New York tapi orang Pakistan, Afganistan, China, Italia, India. Komplet semua ada di situ. Tapi di situ ada klaim
we are new yorker atau
i'm new yorker," kata inisiator Gerakan Cinta Jakarta Tantowi Yahya tadi malam, menggambarkan betapa penduduk New York menganggap kota itu adalah rumah mereka sendiri.
Tantowi mengatakan hal tersebut di sela acara Gathering Cinta Jakarta di Bumi Harum Manis, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Acara yang dihadiri ratusan mahasiswa dan pelajar ini, Tantowi menyerahkan hadiah dan penghargaan bagi para pemenang lomba fotografer dan penulisan essay tentang Jakarta yang digelar Gerakan Cinta Jakarta.
Klaim
we are new yorker atau
i'm new yorker sangat sederhana. Tapi tak sederhana untuk disampaikan atau diucapkan. Karena, kata Tantowi, kalau klaim itu disampaikan, orang yang mengklaim
we are new yorker atau
i'm new yorker memiliki tanggung jawab besar untuk merealisasikannya dalam kehidupan.
"Makanya ada istilah
don't mess with New York, jangan macam-macam dengan New York. Karena begitu besar cinta meraka terhadap
New York, sehingga kalau ada orang yang buang sampah (sembarangan), membuat keributan, itu pasti bukan orang New York, itu pasti pendatang," kata politikus Golkar ini.
Selanjutnya Bali. Anggota Komisi I DPR ini menyatakan di Bali itu hampir tak terlihat ada polisi. Tapi suasana dan kondisinya aman. Kenapa? Tantowi menjelaskan, Bali menjadi kota yang aman, karena penduduknya sendiri yang menjaga keamanan kota.
"Karena kalau Bali itu tidak aman atau kotor, turis tak mau datang. Kalau turis tak mau datang tak ada
income buat mereka. Makanya mereka secara sukarela menjaga Kota Bali," ungkap bakal calon gubernur DKI Jakarta ini.
Begitu juga dengan Jogja. Seperti Jakarta, Jogja juga banyak pendatang, khususnya mahasiswa yang ingin belajar. Tapi, lanjutnya, warga Jogja dan pendatang itu nyaman tinggal di kota gudeg tersebut.
"Buktinya, hanya satu sampai dua tahun tinggal di Jogja, bisa bahasa Jawa. Itu karena kita merasa nyaman di kota itu. Di Jakarta (suasana yang ada di New York, Bali, Jogja) belum tercipta," aku politikus muda ini.
[zul]
BERITA TERKAIT: