Sudah Saatnya Indonesia Dorong Internasionalisasi Kota Mekkah dan Madinah

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Kamis, 23 Juni 2011, 12:45 WIB
<i>Sudah Saatnya Indonesia Dorong Internasionalisasi Kota Mekkah dan Madinah</i>
ilustrasi/ist
RMOL. Pemerintah Kerajaan Arab Saudi tidak benar-benar 'suci' dalam pandangan sebagian kaum muslim di dunia. Benar, bahwa agama Islam lahir dan tumbuh di jazirah Arab. Namun Islam bukan Arab dan Arab tidak melulu Islam.

Sejarah mencatat, pada 20 November 1079,  sekelompok orang Islam radikal menguasai Masjid Al Haram, tempat Kabah berada. Kelompok bersenjata pimpinan Juhaiman Al Utaibi ini menilai kebobrokan pemerintah Kerajaan Arab Saudi yang berkomplotan dengan pihak asing, terutama Amerika Serikat. Ledakan tak terhindarkan dan baku tembak antara pasukan Juhaiman dengan tentara Kerajaan tak bisa dihindari.

Tentara kerajaan terdesak. Terpaksa pemerintah Saudi meminta bantuan pada Perancis. Pasukan Juhaiman pun kalang kabut setelah digempur elit militer dari negara tempat menara Eifel itu berada.

Juhaiman dan pasukannya ditangkap hidup-hidup. Untuk mengingatkan masyarakat akan kejahatan sebuah makar atau bughot, kepala Juhaimin dan pasukannya dipenggal di depan publik.

Peristiwa di atas, dapat dibaca dari catatan koresponden luar negeri The Wall Street Journal, Yaroslav Trofimov.

Kerajaan Arab Saudi berdiri tidak lama setelah kekhalifahan Islam di Istanbul, Turki, runtuh. Kekhalifahan Islam Turki Usmani runtuh pada 3 Maret 1924 dan Kerajaan Arab Saudi berdiri pada 23 September 1932.

Pendiri kerajaan Arab ini adalah Abdul Aziz bin Abdurrahman As Saud atau biasa dikenal dengan Ibnu Saud. Kerajaan yang meliputi wilayah Riyadh, Najd, Haia, Asir, dan Hijaz ini pun kemudian dikenal dengan nama Kerajaan Arab Saudi atau Al Mamlakah Al Arabiyah As Suudiyah.

Selain itu, sejak saat itu, raja-raja Arab pun menggelari dirinya dengan sebutan Al Khadim al Haramain atau pelayan dua kota suci. Dua kota Suci yang dimaksud adalah Mekkah Al Mukarramah dan Madinah Al Munawarah. Dua kota yang sangat penting dalam catatan peradaban Islam.

Sekali lagi, Islam memang benar lahir di dunia Arab, namun Arab bukan melulu Islam. Berbagai kritik dari kaum muslim di kawasan lain sering dilontarkan kepada pemerintah kerajaan Arab Saudi. Apalagi dalam kancah politik Islam internasional, tidak sedikit kebijakan kerajaan Saudi yang merugikan dunia Islam.

Tidak heran, di belahan bumi Afrika, Muammar Khadafy sempat melontarkan gagasan agar dua kota suci, Mekkah dan Madinah, diinternasionalisasi. Dua kota suci tersebut merupakan milik umat Islam se-dunia, bukan milik kerajaan Saudi. Hal yang sama juga sempat digulirkan oleh pemimpin spritual Iran, Ayatullah Imam Khomeini.

Dan Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Belakangan Indonesia berduka, karena salah seorang warga negaranya dihukum pancung di sebelah barat Mekkah. Tentu saja semua pihak harus menghormati hukum di negara lain. Namun, yang menjadi pertanyaan, apakah proses pengadilan untuk menjatuhkan hukuman tersebut berlaku adil dan transparan?

Kepada Rakyat Merdeka Online (Kamis, 23/6), Ketua Dewan Direktur Sabang Merauke Circle Syahganda Nainggolan, mengatakan kasus kematian Ruyati jadi momentum untuk membuka ketidakdilan raja-raja keturunan Ibnu Saud.

"Sekaranglah saatnya Indonesia mendorong internasionalisasi pengelolaan tanah suci Mekkah dan Madinah agar kesucian kota-kota itu benar-benar terjamin," demikian Syahganda. [yan]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA