SMS yang langsung menohok Presiden SBY itu langsung ditanggapi dua hari kemudian, tepatnya pada Senin (30/5) di Landasan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.
"(Respons SBY atas kematian TKI) berbeda dengan sesuatu yang sangat personal atau sesuatu yang sifatnya parsial. Contoh kasus (SMS yang mencatut nama) Nazaruddin. Itu adalah kasus yang langsung menohok pribadinya," kata Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute Gun Gun Heryanto kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Kamis, 23/6).
Menurut Gun Gun, semua orang sudah tahu bahwa SMS gelap itu adalah
bubble issue, yang mudah menggelembung, pecah, lalu hilang. Pada saat orang sudah tahu bahwa itu adalah
bubble issue dan sifatnya hanya berada di lingkup kecil, yaitu hanya menyangkut citranya sendiri, mestinya SBY tidak menanggapi. Karena SBY, sebagai seorang pemimpin, harus tahu skala prioritas.
"Ketika menyangkut SMS gelap itu, dia dalam waktu dalam waktu singkat langsung memberikan respons. Berbeda dengan persoalan krusial yaitu menyangkut perlindungan terhadap warga negara. Itu menunjukkan ada skala prioritas yang keliru dalam hal penyampaian pesan oleh Presiden," tandas dosen UIN Jakarta ini.
[zul]
BERITA TERKAIT: