"Ini pertama garis besarnya dulu. TKI itu, kalau kita lihat sebagai sumber daya manusia bangsa Indonesia, mereka itu mau di Arab Saudi, mau di Indonesia, mereka itu berjuang untuk Bangsa Indonesia dengan tantangan yang ada di mana-mana. Zaman dulu di Indonesia ada Marsinah. Nggak perlu ke Arab Saudi, dalam negeri juga meninggal karena memperjuangakan haknya," kata Ketua Dewan Direktur Sabang Merauke Circle, Syahganda Nainggolan, kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Selasa, 21/6).
Karena TKI, baik yang ada di dalam negeri terlebih di luar negeri, berjuang untuk bangsa Indonesia, makanya pemerintah harus serius dalam melindunginya. Dia melihat, dalam kasus kematian Ruyati, pemerintah masih memandangnya sebagai beban. Yaitu, daripada menganggur di dalam negeri, lebih baik dikirim ke luar negeri.
"Cara pandang inilah yang membuat kita tidak serius dalam mengurus TKI di luar negeri. Berbeda dengan Filipina, India dan China dalam memperlakukan rakyat mereka di berbagai negara. Mereka (TKI) itu aset yang sangat berharga untuk memajukan Indonesia, karena mereka itu adalah pekerja keras. Mereka hidup di luar negeri untuk bekerja bukan untuk jalan-jalan, umroh atau yang lain-lain," bebernya.
Karena itulah dia melihat, Indonesia harus mengadopsi konsep
China Overseas. Dalam konsep ini, China beranggapan, di manapun rakyatnya berada, tetap dipandang sebagai aset. Makanya, orang China yang ada di berbagai negara akan memberikan konstribusi kepada negara asalnya. Dengan konsep itu, China serius dalam melindungi warganya di negara mana pun.
"Kalau aset, kita merasa kalau mereka hilang, bangsa Indonesia guyang gito loh. Jadi bukan nangis setelah kematian. Jadi kita takut kalau mereka itu hilang, karena mereka itu sumber kemajuan Bangsa Indonesia," tandasnya.
[zul]
BERITA TERKAIT: