"Ketiga adanya kasus sekarang ini (kasus Nazaruddin). Dihembuskanlah seolah-olah Demokrat pecah karena Bendum terkena (kasus)," kata Ketua DPP Partai Demokrat Sutan Bhatoegana kepada
Rakyat Merdeka Online, (Selasa, 14/6).
Sedangkan dua isu lain yang dijadikan untuk memojokkan Demokrat adalah dugaan pemalsuan dokumen Mahkamah Konstitusi oleh Andi Nurpati dan kasus-kasus korupsi yang melibatkan beberapa kader Demokrat.
Demokrat dikatakan pecah, kata Sutan, karena Nazaruddin adalah pendukung Anas Urbaningrum pada saat kongres Demokrat di Bandung. Padahal, kata Sutan, tak hanya pendukung Anas, pendukung dua kompetitor lain saat Kongres juga masuk dalam kepengurusan Anas.
"Pak Ibas (Edhi Baskoro Yudhoyono, Sekjen Demokrat) itu kan mendukung Pak Andi (Mallarangeng). Pak Max Sopacua (Wakil Ketua Umum Demokrat) pendukung Marzuki Alie," bebernya.
Kata Sutan, mana ada sejarahnya kepengurusan sebuah partai politik merangkul semua faksi pada saat kongres, kecuali Demokrat. Kata Sutan hal ini berbeda dengan partai lain, yang kalau kalah menjadi ketua umum langsung mendirikan partai atau keluar bergabung dengan partai lain. Tapi hal ini tetap saja dijadikan isu untuk mengkerdilkan Demokrat.
"Jadi ada yang tidak legowo (terhadap keberadaan Demokrat). Dibuatlah demo (anti Demokrat) macam-macam. Biar saja orang itu demo itu. Kita kan tahulah siapa yang bayar. Sekarang kan banyak PT Demo," katanya berkelakar.
Sutan memastikan Demokrat tetap kompak. Pada Juli mendatang, Demokrat akan menunjukkan ke publik tentang kekompakan Demokrat. Demokrat akan menggelar acara silaturrahmi dan rapat koordinasi nasional Demokrat. "Kita kompak, termasuk di daerah. Coba tunjukkan DPD mana yang pecah. Yakinlah badai ini pasti berlalu," katanya mantap.
[zul]
BERITA TERKAIT: