"Pertama saya mau sampaikan, sejak kongres di Bandung, banyak pengamat dan masyarakat yang membilang Demokrat akan jadi contoh dan panutan karena menampilkan tokoh-tokoh muda, partai ini akan jadi partai idola," kata Sutan kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Selasa, 14/6).
Tapi katanya, pasti ada orang yang kurang senang, termasuk apabila Demokrat semakin besar. Apalagi pada saat mengikuti Pemilu pertama kali tahun 2004, Demokrat menang pada Pemilihan Presiden. Sedangkan pada Pemilu berikutnya, Demokrat memenangi Pemilihan Legislatif dan Pilpres.
"Maka dicari-carilah kesalahanya," kata Sutan, yang juga anggota Komisi VII DPR ini.
Menurut Sutan ada tiga hal yang dijadikan orang yang tak senang Demokrat untuk menyerang. Pertama dugaan pemalsuan dokumen Mahkamah Konstitusi oleh Andi Nurpati yang dilaporkan Ketua MK Mahfud MD ke Kepolisian. Kedua beberapa kader Demokrat yang tersangkut kasus korupsi. Menurut Sutan, kader-kader yang diduga tersangkut kasus hukum itu melakukan dugaan pelanggaran hukum tersebut sebelum masuk ke Partai Demokrat.
"Kita kan tidak tahu. Apa anda tahu (siapa yang bermasalah)? Ini kan partai terbuka, siapa saja boleh masuk. Kan kita senang-senang saja kalau ada bupati dan walikota yang bergabung ke kita," katanya saat ditanya apakah Demokrat sebelumnya tidak tahu bahwa calon kader itu adalah orang bermasalah.
Tapi atas dasar pengalaman itu, kata Sutan, partainya akan memperketat persyaratan orang yang akan bergabung. Demokrat juga akan memperhatikan jenjang pengkaderan setiap kader. Meski begitu, Sutan memastikan, Demokrat tetap mendorong penegak hukum kader-kader Demokrat yang diduga tersangkut hukum.
"Buktikan saja. Kita dorong KPK dan penegak hukum lainnya kupas tuntas. Ingat KPK berdaya saat Presiden dijabat Pak SBY. Pak SBY mendorong KPK (untuk mengusut) siapa saja yang terkait korupsi, termasuk (bila ada yang dari) Istana," katanya mantap.
[zul]
BERITA TERKAIT: