"Habibie tetap dengan gaya komunikasi yang lugas, ekstrovert, rasional, dan di sana-sini menampilkan gaya retorika impromptu-nya masih terasa, substansi pesan jelas mengacu hjmbauan agar kita tak melupakan Pancasila dalam kehidupan berbangsa," jelas pengamat komunikasi Gun Gun Heryanto kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Kamis, 2/6).
Sedangkan Mega, masih kata Gun Gun, tampil dengan gaya retorika-scriptwriter karena dominan membaca teks. Pendekatannya romantisme-historis, dengan menekankan data dan fakta seputar peran Soekarno dalam kelahiran Pancasila.
"Imbuan Mega agar Pancasila tetap masuk dalam sistem pendidikan nasional menjadi isi yang penting dicatat. Impresi Mega muncul justru saat Mega mengutip syair lagu 'Pancasila Rumah Kita' Franky Sahilatua. Ekspresi Mega nampak pas dengan syair-sayir tersebut. Sebelum-sebelumnya kalimat demi kalimat mega datar dan nampak membosankan," urai dosen Ilmu Komunikasi UIN Jakarta ini.
Terakhir, SBY tampil dengan gaya komunikaso-ekstemporer, yaitu paduan antara teks yang sudah disiapkan dengan improve dari catatan-catatan atas pidato-pidato Habibie, Mega dan Ketua MPR Taufik Kiemas. Dari segi gaya, SBY lebih menarik dari Mega. Pendekatan pidatonya rasional-metodologis, misalnya dengan mengangkat hasil-hasil riset Badan Pusat Statistik (BPS).
"Bagian paling menarik dari pidato SBY adalah penyampaian data hasil riset tersebut, menggambarkan sikap masyarakat atas Pancasila. Ada beberapa informasi baru yang bisa didengar, selebihnya bersifat normatif dan datar meski bahasanya ilmiah dengan diksi dan intonasi terukur," tandasnya.
Meski memiliki perbedaan dalam menyampaikan pidato, simpul Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute ini, substansi pidato ketiga tokoh tersebut memiliki benang merah yang sama; perlunya revitalisasi ideologi Pancasila, yaitu menggugah kembali kognisi, afeksi dan prilaku bangsa Indonesia agar selaras dengan nilai-nilai Pancasila.
[zul]
BERITA TERKAIT: