"Sekarang ini kita lihat saja bahwa oreantasi masyarakat tidak lagi terlampau ideologis seperti pada tahun 1950an. Bahkan orang sekarang cenderung pragmatik dalam partai politik, dan saya kurang setuju dengan cara itu," kata Yusril Ihza Mahendra.
Hal itu dikatakan mantan Menteri Hukum dan HAM tersebut kepada
Rakyat Merdeka Online di kawasan Sudirman kemarin malam (30/4) usai memberikan testimoni pada peluncuran buku
The Third Heritage Kontribusi Islam terhadap Renaisans dan Pemikiran Politik Barat karya Ahmad Suhelmi.
Menurut hemat Yusril ada dua kemungkinan penyebab isu NII kembali muncul. Pertama, karena sebagian masyarakat mendambakan ideologi. Kedua, memang sengaja dikondisikan pihak-pihak tertentu, baik dari kalangan pihak yang berkuasa maupun kalangan dari luar Indonesia.
Apa untungnya bagi pihak luar memunculkan isu NII?"Indonesia ini negara dengan
natural resources begitu besar. Anda kira negara-negara ini akan senang Indonesia menjadi kuat dan besar. Segala macam hal dilakukan untuk menginfiltrasi ke dalam dan membuat bangsa ini berantam
nggak habis-habisnya, berkelahi
nggak habis-habisnya sehingga capek. Sehingga sumber alam itu dikuasai Barat maupun China, maupun yang lain-lain," jelasnya.
Yusril mengingatkan, hal serupa pernah terjadi di tahun 1998 ketika terjadi huru-hara politik.
"Anda ingat
nggak, tahun 1998 kan ada isu banyak sekali gadis-gadis China diperkosa. Itu kan tidak ada dalam kenyataan. Dan sumber saya dari Jepang memberitahu bahwa itu pekerjaan intelijen China. Kepentinganya apa? Supaya Jepang yang pada waktu itu komitmen untuk berinvestasi di Indonesia mengalihkan investasinya ke China. Jadi hal-hal begini, tidak pernah disadari orang," kata Yusril
Apakah operasi intelijen asing berhubungan dengan pemerintah Indonesia?"
Enggak juga. Operasi intelijen bisa melalui
network dengan cara dia yang tidak kelihatan," jawabnya.
[zul]
BERITA TERKAIT: