Pepi terdaftar sebagai mahasiswa Tarbiyah yang masuk pada tahun 1997 dan keluar tahun 2001. Tapi yang menarik, selama kuliah di kampus yang berlokasi di Ciputat itu, Pepi bukan lah aktivis pengajian. Malah Pepi dikabarkan, seperti dikutip dari sebuah harian nasional, suka nongkrong, dan bahkan memiliki kebiasaan buruk, menenggak alkohol dan mengkonsumsi narkoba.
Atas fakta itulah, Munarman tidak habis pikir kenapa Rektor UIN Jakarta Komaruddin Hidayat malah mengimbau mahasiswa untuk memantau bila ada pengajian dan gerakan yang aneh-aneh di kampus. Karena yang harus diantisipasi pihak UIN mestinya mahasiswa yang kerap menenggak alkohol dan mengkonsumsi narkoba.
"Seharusnya yang dikhawatirkan itu adalah banyaknya mahasiswa yang menjadi peminum alkohol, bukan mahasiwa yang ikut pengajian. Jadi itu sikap yang aneh dari para dosen di UIN. Mereka lebih khawatir mahasiswa di UIN ikut pengajian dibandingkan menenggak alkohol, kemudian nongkrong dan berpaham atheis," kata Ketua FPI ini kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Senin, 25/4).
Tanpa tedeng aling-aling, Munarman menyebut sikap para dosen UIN Jakarta itu sebagai sikap munafik, dengan sebelumnya merujuk ayat Al-Quran.
"Mereka senang melihat orang bermaksiat tapi risau melihat orang menempuh jalan Allah. Ini kalau soal mana yang lebih dikhawatirkan, ya, antara mahasiswa yang ikut pengajian dan senang nongkrong dan menenggak alkohol ya. Kita belum kaitkan dengan bam-bom-bam-bom ya," terangnya.
Hal itu, katanya lagi, bila si Pepi dikaitkan dengan UIN. Karena selama kuliah di UIN, Pepi tidak pernah aktif di pengajian malah suka menenggak alkohol dan mengkonsumsi narkoba.
"Selama di UIN dia tidak mendapatkan apa-apa dari pelajaran agama Islam yang diajarkan di UIN itu. Justru itu sebetulnya (yang harus diperhatikan dosen UIN)," tegas mantan Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia ini. [zul]
BERITA TERKAIT: