76,6 Persen Anak Buta Matematika

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/zulhidayat-siregar-1'>ZULHIDAYAT SIREGAR</a>
LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR
  • Senin, 31 Januari 2011, 14:25 WIB
76,6 Persen Anak Buta Matematika
ilustrasi
RMOL. Kemenangan siswa Indonesia dalam ajang lomba-lomba olimpiade internasional rupanya tak membuat kualitas siswa Indonesia  meningkat. Justru sebaliknya, sekitar 76,6 persen siswa setingkat SMP ternyata "buta" matematika.  

Dari skala 6, kemampuan matematika siswa Indonesia hanya berada di level ke-2. Ironisnya kondisi itu bertahan sejak tahun 2003 lalu. Artinya selama tujuh tahun, kondisi itu tetap stagnan alias tak berubah.

"Di sini, tampak bahwa siswa Indonesia dengan profisiensi di bawah level 2 sangat tinggi, mencapai 76,6% dari populasi. Juga tampak jika dibandingkan dengan 2003, kondisinya hampir tidak berubah (lambang 0). Situasi ini menunjukkan pendidikan matematika yang sekarang tidak mampu mengangkat ke level 2 atau lebih atas. Pembenahan pendidikan matematika sekolah kita belum berhasil," kata praktisi pendidikan, Iwan Pranoto.

Matematikawan asal Institute Teknologi Bandung itu mengatakan hal tersebut dalam diskusi terbatas yang diselenggarakan Ikatan Guru Indonesia, akhir pekan kemarin.  Selain Iwan Pranoto, hadir juga dalam diskusi yang dilangsungkan di Sekretariat Gerakan Indonesia Mengajar, Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Djalal dan  Ketua Program Gerakan Indonesia Mengajar Anies Baswedan.

Juga turut hadir Gurubesar ITB Bana Kartasasmita, sejumlah dosen dari berbagai perguruan tinggi, guru dari sejumlah sekolah, pemerhati pendidikan, serta wakil dari Pusat Penelitian Pendidikan, Pusat Kurikulum dan Perbukuan, dan Pusat Penelitian Kebijakan.

Menurut Iwan, berdasarkan hasil The Program for International Student Assessment, 2010, posisi Indonesia mengenaskan, hanya juara ketiga dari bawah. Indonesia hanya lebih baik daripada Kirgistan dan Panama.  

"Dari penyajian grafik di samping, yang harus diperhatikan bukan posisi Indonesia
yang di posisi 3 dari bawah. Yang justru merisaukan adalah dua fakta: Persentase siswa Indonesia yang di bawah level 2 sangat besar (76,6%) dan persentase siswa yang di level 5 dan 6 secara statistika tidak ada. Menurut pendefinisian level profisiensi matematika dari OECD, siswa di bawah level 2 dianggap tidak akan mampu berfungsi efektif di kehidupan abad 21," tambah Iwan.

Menurutnya, penyebab utama hasil terburuk ini akibat ketidaksesuaian ekspektasi/harapan kebermatematikaan di program pendidikan matematika di Indonesia dan dunia di abad 21. Kegiatan bermatematika yang dituntut dunia adalah bermatematika yang utuh, sedang yang dilakukan siswa kita hanyalah parsial.

Selain itu, proses belajar matematika di Indonesia masih berpusat pada penyerapan pengetahuan tanpa pemaknaan, padahal yang dituntut di dunia global justru berpusat pada pemanfaatan hasil belajar matematika dalam kehidupan (pemahaman, keterampilan, dan sikap/karakter).

"Praktik pendidikan matematika di Indonesia masih terpusat untuk mempersiapkan siswa melanjutkan ke pendidikan tingkat tersier, tetapi dunia di abad 21 ini justru memandang pembelajaran matematika yang paling utama untuk berfungsi efektif di kehidupan sehari-hari sebagai warga yang peduli, konstruktif, dan piawai bernalar," tegasnya. [zul]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA