"Dia harus legowo (mundur)," ujar Juru Bicara Partai Demokrat Ruhut Situmpul kepada
Rakyat Merdeka Online (Jumat, 31/12).
Menurut Ruhut, publik memang layak menghormati Nurdin Halid karena jasanya. Jasanya, seperti diakui sendiri oleh Nurdin, terang Ruhut, berhasil membawa Markus Horison dan kawan-kawan tampil di putaran final.
Namun, Ruhut mengingatkan, kalau Nurdin tidak melakukan kesalahan, Timnas tidak hanya sampai pada final, tapi bisa menjadi juara. "Kesempatan tidak datang dua kali. Sayang kesempatan itu tidak mereka jaga. Karena dipolitisir," ujar Ruhut.
Menurut Ruhut, janji bonus kepada pemain bila memenangakan pertandingan. Menurut Ruhut hal itu akan mengikis semangat pemain, apalahi disebutkan bahwa bonus akan dibagi rata kepada semua pemain. Padahal, meski satu tim tentu ada pemain yang primadona, paling berjasa.
"Kalau nanti sudah mencapai juara boleh nanti diiming dengan uang. Tunggu dong. Karena itu mereka melanggara asas Jawa '
Ojo kesusu,' jangan mendahului," lanjut Ruhut.
Selain itu, masih kata Ruhut, Timnas Nasional Indonesia, tidak boleh dikaitkan dengan SARA. Makanya, dia menyayangkan, acara istighasah yang digelar PSSI sebelum bertanding di Malaysia.
"Mohon maaf, ngapaian mendahalui Istighasah. Jangan dibawa ke sana. Karena sebagian pemain Timnas itu ada yang umat Kristiani, seperti Okto," jelas Ruhut sambil meminta pengganti Nurdin harus berasal dari kelompok profesional yang tidak memiliki afialiasi dengan partai politik.
Sebelumnya usai pertandingan, Nurdin Halid menegaskan, tidak akan mundur dari jabatannya. Karena menurutnya, tidak ada di dunia ini, ketua umum disuruh mundur saat timnya menang.
Hal ini merujuk pada kemenangan Timnas Nasional 2-1 lawan Malaysia. Karena itu dia menilai, kekalahan Timnas ini karena faktor keberuntungan. "Saya tidak akan mundur karena menghargai demokrasi dan tatanan PSSI. Jika kita gagal juara, itu
very very unlucky," kilahnya. [zul]
[zul]
BERITA TERKAIT: