Demikian dikatakan Rosalinda G Latino, aktivis lingkungan Filipina kepada wartawan di kantor Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), Mampang, Jakarta Selatan, Jumat malam (24/9).
"Batu bara merupakan energi kotor dan sangat merusak. Perusahan-perusahan pertambangan merusak ketahanan pangan dan ketahanan ekonomi Indonesia," tegas aktivis yang bernaung dibawah Legal Right and Natural Resources (LRC) itu.
Selain itu, pertambangan juga menyebabkan terjadinya global warming atau perubahan iklim. Ini karena 60 persen peningkatan karbondioksida di udara berasal dari batu bara.
"Jadi Global warming itu disebabkan oleh orang-orang kaya (perusahan-perusahan tambang)," katanya yang sesekali berbicara bahasa Tagalog. Untuk mengurangi resiko tersebut, Ros, sapaan akrabnya, meminta agar pemerintah Indonesia segera menggunakan energi yang lebih aman. misalnya energi matahari atau energi yang bersumber dari udara.
"Ok, tidak masalah untuk awal yang mahal. Tapi pelan-pelan itu akan jadi murah karena kedua energi itu tidak akan pernah habis," pungkas aktivis lingkungan Filipina itu.
[arp]
BERITA TERKAIT: