Insiden itu salah satunya, dinilai karena kegagalan Menag SDA dalam memaksimalkan fungsi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang berada di bawah Kementerian yang ia pimpin. Atas kegagalannya itu, ada pihak yang mengusulkan agar posisi menteri agama sebaiknya diisi oleh kalangan organisasi kemasyarakatan bukan dari partai politik, asal SDA.
Bagaimana tanggapan Partai Amanat Nasional itu?
Ketua Fraksi PAN Tjatur Sapto Edi menolak penilaian masyarakat berdasarkan dari latar belakang sang menteri. Untuk menguatkan argumennya, Tjatur menyuguhkan kisah perjalanan setan yang diusir dari sorga.
"Waktu di sorga itu, setan terusir gara-gara dia merasa lebih mulia daripada manusia. Karena dia (setan) terbuat dari api," kisah Tjatur dalam konferensi pers di gedung DPR, Jakarta (Jumat, 17/9).
Pesan dari cerita itu, Tjatur mengimbau publik untuk tidak menghakimi menteri berdasarkan asal sang menteri, apakah dari Parpol, berlatar belakang Ormas, atau memiliki
background lainnya.
"Jadi menurut kami tidak perlu mempermaslahkan latar belakang untuk jabatan tertentu. Yang penting adalah
track record dan pemahamannya terhadap bidang yang digelutinya dan menjadi wewenanganya," imbuhnya.
Dia sendiri melihat SDA yang juga ketua umum PPP itu paham atas tugas dan kewenangan Kementerian Agama. Karena SDA sendiri memiliki latar belakang sekolah agama yaitu Institute Agama Islam Negeri.
"Beliau pahamlah insya Allah. Kalau perlu dikritik, silakan dikritik. Tapi bukan pada permasalahan orang partai politik lebih baik, atau orang dari bukan partai politik tidak baik," tandasnya.
[zul]
BERITA TERKAIT: