"Teman saya, Pak SBY, dalam pidato 16 Agustus lalu mengatakan bahwa haluan ekonomi kita sudah benar,
on the track. Saya mohon maaf, haluannya sudah menyimpang dari UUD 1945. Tidak akan berhasil mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat. Tidak akan berhasil menciptakan lapangan pekerjaan. Malahan, membuat Indonesia semakin tertinggal, terpuruk dan dilecahkan oleh negara-negara lain," ujar Rizal Ramli dalam diskusi "Memaknai Kedaulatan dan Kemandirian Bangsa antara Harapan dan Realita" di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (26/8).
Rizal juga mempertanyakan apa alasan pemerintah mengatakan haluan ekonomi sudah benar.
"Bukankah fakta bahwa puluhan UU telah dibuat oleh orang asing? Bukankah tidak mungkin kita bisa mensejahterakan rakyat sementara UU-nya pesanan. Kalau ingin mensejahterakan rakyat, caranya hanya satu. Kita harus ubah haluan ekonomi," papar Mantan Menko Ekuin ini.
Masih menurut Rizal, Indonesia sudah merdeka 65 tahun tapi hanya 20 persen dari rakyat yang paling atas yang menikmati APBN. Sisanya hidup pas-pasan, di garis kemiskinan. Mungkin bagi sebagian sudah tidak ada harapan hidup, sehingga mereka memilih bunuh diri.
"Hak dasar warga negara lainnya, yakni hak pendidikan, juga masih belum bisa dinikmati. Setiap tahun diminta biaya masuk sekolah. Tahun 1970-an tingkat
droup out hanya tiga persen. Itu juga karena anak-anak-nya tidak mau sekolah dan atau karena ikut bapaknya bertani di sawah. Sekarang ini tingkat
drop out 20 persen
," lanjut Rizal
. [arp]
BERITA TERKAIT: