Berhala itu Bernama HP

Senin, 02 November 2026, 04:22 WIB
Berhala itu Bernama HP
Ilustrasi. (Foto: Istimewa)
Kecil Besar
GAWAI yang terkoneksi ke internet kini dianggap dewa. Ia merayap lambat. Menduduki semua ruang kehidupan. Kudeta digital ini tak hanya terjadi di area publik. Layar 6 inci ini pun bahkan telah merasuki rumah hingga tempat ibadah. Gawai bukan lagi sekadar alat bantu. Namun ia telah menjelma menjadi berhala baru yang menyita perhatian kita semua. 

Alih-alih merenungi lembaran waktu yang telah berlalu, jemari kita saat ini lebih sibuk menyapu layar untuk menggulir media sosial alias medsos dan bermain game. Konten-konten pun terus membanjiri beranda ponsel kita.

Doa yang Lumpuh oleh Algoritma

Virus digital ini pun menyerang jantung rumah-rumah kita. Terutama di waktu petang. Suara lantunan ayat suci Al-Qur'an kini kian langka terdengar. Perlahan lenyap di telan bumi. Tradisi mengaji bakda magrib pun mulai diterjang gelombang informasi tanpa batas. 

Anak-anak kita kini mulai kehilangan momen mengaji kitab suci di bawah bimbingan guru ngaji. Sebaliknya, orang tua pun mulai kehilangan moralnya. Sama-sama terpenjara oleh candu digital yang mulai akut. 

Tak hanya itu, ruang keluarga pun mendadak sunyi dari interaksi hangat. Semua orang, dari bapak hingga anak, sibuk dengan dunianya masing-masing. 

Semuanya terisolasi di balik cahaya layar ponsel sendiri sendiri. Rumah tak ubahnya sekumpulan manusia asing yang tengah bernaung. Terkoneksi ke dunia luar, namun jiwanya terputus dari orang-orang tercinta di sekelilingnya.

Sunyi di Balik Garis Saf

Rumah Allah pun tidak luput dari serbuan teknologi layar sentuh ini. Masjid, sebagai benteng terakhir untuk menjemput bersujud dan meraih ketenangan jiwa, ikut terkontaminasi. 

Kesakralan ibadah tergerus. Bahkan di sela-sela saf salat jemaah, gawai-gawai itu pun tetap menyala. Bersembunyi di balik saku baju koko dan celana panjang. 

Getar dan bunyinya berisik. Kerap memecah kekhusyukan dan merusak kekhidmatan beribadah. Manusia dewasa ini tampaknya tengah mengidap sindrom kecemasan akut. Mereka jauh lebih takut kehilangan sinyal internet daripada berdoa dengan Sang Pencipta. 

Begitu imam mengucapkan salam, kini mulai redup pemandangan jemaah yang menengadahkan tangan dengan khusyuk. Waktu luang yang dulu digunakan untuk berzikir dan beristigfar, kini habis digilas hasrat memeriksa notifikasi media sosial. 

Mayoritas umat Islam secara fisik telah berkumpul, namun pikirannya mengembara jauh dalam algoritma digital. Kita sedang menyaksikan matinya kehidupan bersosial yang terjadi di sekeliling kita. 

Menjemput Jiwa yang Hilang

Belum terlambat untuk membalikkan keadaan. Kita hanya perlu mengambil keberanian yakni letakkan gawai sejenak. Saatnya membangunkan kembali ruang keluarga yang mati dengan obrolan hangat. 

Ketuk kembali pintu hati anak-anak kita dengan kembali menuntun mereka mengeja lembaran kitab suci Al-Quran di waktu petang. 

Karena kebahagiaan sejati tak pernah berada di dalam dinginnya ponsel pintar, tapi pada ketulusan mata orang-orang tercinta yang ada di sisi kita. 

Di dalam masjid, mari kita runtuhkan berhala digital itu sebelum takbir berkumandang. Matikan ponselnya, hidupkan kembali kesadaran jiwa. 

Rebut kekhusyukan yang sempat terampas oleh riuh dunia maya. Ingat, ketenangan hakiki hanya bisa dijemput saat jemari kita berhenti menggulir beranda, dan mulai menengadahkan tangan dengan penuh kepasrahan kepada Sang Pemilik Kehidupan. 

Mari jadikan renungan ini untuk berhijrah secara nyata. Kita adalah tuan atas teknologi, bukan budak dari algoritma. 

Mari pulangkan kembali jiwa-jiwa kita yang telah mengembara jauh, agar hidup yang singkat dan fana ini kembali bermakna, penuh berkah, dan meninggalkan jejak kebaikan yang abadi. Semoga!

Jejep Falahul Alam
Pengurus ICMI dan KAHMI Majalengka
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA