Alih-alih merenungi lembaran waktu yang telah berlalu, jemari kita saat ini lebih sibuk menyapu layar untuk menggulir media sosial alias medsos dan bermain game. Konten-konten pun terus membanjiri beranda ponsel kita.
Doa yang Lumpuh oleh AlgoritmaVirus digital ini pun menyerang jantung rumah-rumah kita. Terutama di waktu petang. Suara lantunan ayat suci Al-Qur'an kini kian langka terdengar. Perlahan lenyap di telan bumi. Tradisi mengaji bakda magrib pun mulai diterjang gelombang informasi tanpa batas.
Anak-anak kita kini mulai kehilangan momen mengaji kitab suci di bawah bimbingan guru ngaji. Sebaliknya, orang tua pun mulai kehilangan moralnya. Sama-sama terpenjara oleh candu digital yang mulai akut.
Tak hanya itu, ruang keluarga pun mendadak sunyi dari interaksi hangat. Semua orang, dari bapak hingga anak, sibuk dengan dunianya masing-masing.
Semuanya terisolasi di balik cahaya layar ponsel sendiri sendiri. Rumah tak ubahnya sekumpulan manusia asing yang tengah bernaung. Terkoneksi ke dunia luar, namun jiwanya terputus dari orang-orang tercinta di sekelilingnya.
Sunyi di Balik Garis SafRumah Allah pun tidak luput dari serbuan teknologi layar sentuh ini. Masjid, sebagai benteng terakhir untuk menjemput bersujud dan meraih ketenangan jiwa, ikut terkontaminasi.
Kesakralan ibadah tergerus. Bahkan di sela-sela saf salat jemaah, gawai-gawai itu pun tetap menyala. Bersembunyi di balik saku baju koko dan celana panjang.
Getar dan bunyinya berisik. Kerap memecah kekhusyukan dan merusak kekhidmatan beribadah. Manusia dewasa ini tampaknya tengah mengidap sindrom kecemasan akut. Mereka jauh lebih takut kehilangan sinyal internet daripada berdoa dengan Sang Pencipta.
Begitu imam mengucapkan salam, kini mulai redup pemandangan jemaah yang menengadahkan tangan dengan khusyuk. Waktu luang yang dulu digunakan untuk berzikir dan beristigfar, kini habis digilas hasrat memeriksa notifikasi media sosial.
Mayoritas umat Islam secara fisik telah berkumpul, namun pikirannya mengembara jauh dalam algoritma digital. Kita sedang menyaksikan matinya kehidupan bersosial yang terjadi di sekeliling kita.
Menjemput Jiwa yang HilangBelum terlambat untuk membalikkan keadaan. Kita hanya perlu mengambil keberanian yakni letakkan gawai sejenak. Saatnya membangunkan kembali ruang keluarga yang mati dengan obrolan hangat.
Ketuk kembali pintu hati anak-anak kita dengan kembali menuntun mereka mengeja lembaran kitab suci Al-Quran di waktu petang.
Karena kebahagiaan sejati tak pernah berada di dalam dinginnya ponsel pintar, tapi pada ketulusan mata orang-orang tercinta yang ada di sisi kita.
Di dalam masjid, mari kita runtuhkan berhala digital itu sebelum takbir berkumandang. Matikan ponselnya, hidupkan kembali kesadaran jiwa.
Rebut kekhusyukan yang sempat terampas oleh riuh dunia maya. Ingat, ketenangan hakiki hanya bisa dijemput saat jemari kita berhenti menggulir beranda, dan mulai menengadahkan tangan dengan penuh kepasrahan kepada Sang Pemilik Kehidupan.
Mari jadikan renungan ini untuk berhijrah secara nyata. Kita adalah tuan atas teknologi, bukan budak dari algoritma.
Mari pulangkan kembali jiwa-jiwa kita yang telah mengembara jauh, agar hidup yang singkat dan fana ini kembali bermakna, penuh berkah, dan meninggalkan jejak kebaikan yang abadi. Semoga!
Jejep Falahul AlamPengurus ICMI dan KAHMI Majalengka
BERITA TERKAIT: