Rengrengan di Rumah Tuhan

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/ahmadie-thaha-5'>AHMADIE THAHA</a>
OLEH: AHMADIE THAHA
  • Selasa, 13 Oktober 2026, 12:04 WIB
Rengrengan di Rumah Tuhan
Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi Penulis)
Kecil Besar
SEORANG jenderal polisi berdiri di atas mimbar kayu. Seragam cokelat membungkus tubuhnya, tanda pangkat melekat di bahu, atribut kedinasan menghiasi dadanya. Kopiah hitam bertengger di kepala.

Di hadapannya, jemaah Jumat menyimak khutbah. Pemandangan ini mempertemukan dua simbol: mimbar yang mengingatkan manusia pada kerendahan hati dan seragam yang menunjukkan kedudukan dalam hierarki kekuasaan.

Jenderal Suyudi Ario Seto, Kapolri yang baru dilantik pada awal bulan ini, menjadi khatib di Masjid Al-Ikhlas, Markas Besar Polri, Jakarta, Jumat, 9 Oktober 2026. Dalam khutbahnya, ia mengingatkan jemaah agar menjauhi kesombongan, menghormati sesama, dan menjalankan jabatan sebagai amanah.

Nasihat itu terdengar akrab. Namun, ketika seorang pejabat tertinggi kepolisian menyampaikannya, pesan tersebut memperoleh makna berlapis. Ia tertuju kepada dirinya sendiri, kepada jamaah, dan kepada seluruh “rengrengan” yang menyertainya.

Istilah Sunda “rengrengan” menggambarkan rombongan orang yang mendampingi seorang tokoh. Dalam tata kedinasan, kehadiran pejabat tinggi lazim disertai ajudan, pengawal, staf, dan pejabat pendamping sesuai kebutuhan serta protokol.

Tim Voorijder dapat membuka jalan, pengawalan menjalankan tugas keamanan, dan pejabat setempat menyambut sesuai ketentuan. Semua memiliki fungsi. Namun, seluruh perangkat itu sekaligus menampilkan kedudukan sang pejabat di hadapan publik.

Ketika jenderal naik mimbar, dengan demikian, ia membawa lebih dari dirinya sendiri. Seluruh tata hierarki yang mengiringinya ikut memasuki ruang ibadah. Pangkat tetap terpasang, protokol tetap bekerja, dan “rengrengan” tetap menyertai. Sementara itu, isi khutbahnya mengajak manusia merendahkan hati.

Di sinilah letak paradoks yang menarik untuk direnungkan. Khutbah itu pertama-tama kembali kepada sang jenderal. Ketika ia menyebut jabatan dan kekuasaan sebagai amanah, ia sedang mengingatkan dirinya sendiri tentang tanggung jawab yang melekat pada kedudukannya. Pangkat tertinggi memberinya kewenangan besar, tetapi juga menuntut pengendalian diri yang lebih besar.

Berikutnya, pesan menjangkau jamaah. Mereka mendengar seorang pemimpin kepolisian mengingatkan pentingnya kesederhanaan dan penghormatan terhadap sesama. Jabatan pembicara membuat nasihat tersebut bersentuhan langsung dengan persoalan kehidupan publik: bagaimana kekuasaan digunakan dan bagaimana pemegangnya memperlakukan orang lain.

Lingkaran ketiga yang dijangkau pesan ialah jajaran yang berada di bawah komandonya. Para perwira, ajudan, pengawal, staf, dan anggota kepolisian yang menyaksikan khutbah itu dapat menangkap pesan yang melampaui nasihat pribadi.

Suyudi menasehati dalam khotbahnya, jangan menggunakan pangkat untuk merendahkan orang lain. Jangan menjadikan seragam sebagai alat menakut-nakuti warga. Jangan merasa lebih tinggi hanya karena memiliki akses kepada atasan.

Tentu, kita tidak mengetahui bagaimana setiap orang menafsirkan khutbah tersebut. Namun, kedudukan Suyudi membuat perkataannya mempunyai jangkauan yang berbeda dari khutbah seorang jamaah biasa.

Ia berbicara sebagai seorang Muslim sekaligus pemimpin institusi dengan struktur komando yang luas. Nasihat moralnya berpotensi menjadi pesan kepemimpinan bagi seluruh jajaran.

Persoalannya, apakah hierarki kedinasan selalu sejalan dengan semangat kerendahan hati? Belum tentu.

Dalam salat berjamaah, manusia berdiri dalam saf yang sama. Pangkat, kekayaan, dan kedudukan sosial tidak menentukan keutamaan seseorang di hadapan Allah. Di luar saf, kehidupan kembali berjalan menurut struktur dan aturan.

Kepolisian membutuhkan jenjang komando agar tugas terlaksana dengan tertib. Protokol juga memiliki fungsi keamanan dan administratif. Kita tidak perlu menganggap semua itu sebagai kesombongan.

Namun, tata hierarki menghasilkan kesan sosial yang tidak selalu berhenti pada fungsi resminya. Kehadiran seorang jenderal beserta pengawalan dapat membuat orang merasa terhormat, tetapi juga mungkin membuat sebagian orang sungkan.

Sebuah acara keagamaan pun dapat menghadirkan suasana yang berbeda ketika tokoh berkuasa datang bersama rombongannya.

Dalam kajian sosiologi, Erving Goffman menjelaskan bagaimana penampilan, tata tempat, dan perilaku membentuk kesan dalam interaksi sosial. Kita dapat memakai gagasan itu untuk membaca foto Suyudi.

Sebelum mengucapkan satu kalimat pun, seragam, pangkat, dan posisi sang jenderal sudah menyampaikan informasi tentang kedudukannya. Ketika ia berbicara tentang kerendahan hati, publik menangkap pesan verbal sekaligus membaca panggung sosial yang menyertainya.

Kita tidak perlu menuduh Suyudi sengaja mempertontonkan kekuasaan. Protokol dapat berjalan karena kewajiban kedinasan, bukan karena keinginan untuk memperoleh penghormatan.

Namun, niat seseorang dan kesan yang muncul dari kehadirannya merupakan dua perkara berbeda. Protokol mengatur bagaimana pejabat hadir; protokol tidak menentukan sepenuhnya bagaimana masyarakat memaknai kehadiran itu.

Al-Qur’an memberikan landasan yang relevan dalam Surah An-Nisa ayat 58: manusia diperintahkan menyampaikan amanah kepada yang berhak dan menetapkan keputusan dengan adil.

Bagi seorang polisi, amanah itu mempunyai bentuk yang sangat konkret. Ia menangani laporan, menyelidiki perkara, menjalankan penangkapan sesuai hukum, dan berhadapan dengan warga yang mungkin tidak memahami hak-haknya.

Bayangkan seorang warga miskin datang ke kantor polisi untuk melaporkan kehilangan. Ia membutuhkan petugas yang mau mendengar, menjelaskan prosedur, dan menindaklanjuti laporannya sesuai ketentuan. Warga itu membutuhkan kewenangan yang bekerja untuk melindungi haknya, bukan pangkat yang membuatnya gentar.

Pesan serupa berlaku bagi anggota kepolisian yang berhadapan dengan pengendara, korban kejahatan, tersangka, atau peserta demonstrasi. Kerendahan hati tidak berarti polisi kehilangan ketegasan. Ia berarti petugas menggunakan kewenangannya secara proporsional, menghormati martabat manusia, dan tunduk pada hukum.

Karena itu, nasihat seorang Kapolri akan memperoleh arti kelembagaan ketika bawahannya menerapkannya dalam pekerjaan. Pemimpin perlu memastikan bahwa pelayanan yang baik mendapat penghargaan, pengaduan warga memperoleh tindak lanjut, dan pelanggaran ditangani secara konsisten.

Pendidikan karakter juga perlu terhubung dengan latihan menghadapi situasi nyata, bukan berhenti pada hafalan slogan.

Di sinilah tanggung jawab sang jenderal melampaui keteladanan pribadi. Ia memimpin organisasi yang perilakunya terbentuk melalui aturan, kebiasaan, pengawasan, dan keputusan pimpinan. Jika ia menghendaki jajaran yang rendah hati, ia perlu membangun sistem yang tidak memberi ruang bagi kesewenang-wenangan.

Ibnu Khaldun dalam kitabnya “al-Muqaddimah”, membahas kepolisian sebagai bagian dari penyelenggaraan pemerintahan yang menjaga ketertiban dan menangani kejahatan.

Struktur negara pada zamannya berbeda dari negara modern, tetapi persoalan dasarnya tetap relevan: bagaimana kewenangan menjaga masyarakat tanpa berubah menjadi alat penindasan? Kepolisian membutuhkan kekuatan untuk menjalankan hukum, sedangkan legitimasi penggunaannya bergantung pada keadilan dan pertanggungjawaban.

Foto Suyudi di mimbar mengajak kita melihat persoalan itu melalui sudut yang tidak biasa. Seorang pemimpin berbicara tentang amanah di tengah simbol-simbol yang menunjukkan kedudukannya.

Pesannya menjangkau dirinya, jamaah, dan seluruh orang yang mengikuti arahannya. Semakin luas kewenangan seseorang, semakin banyak pula orang yang terkena akibat dari keteladanan atau kegagalannya.

Maka, “rengrengan” di rumah Tuhan menghadirkan pertanyaan yang layak kita bawa pulang. Ketika seorang jenderal mengingatkan orang agar tidak merasa lebih hebat daripada sesamanya, bagaimana pesan itu diterjemahkan oleh mereka yang mengenakan seragam dan menjalankan perintahnya?

Protokol boleh tetap berjalan. Pangkat boleh tetap melekat. Pengawalan boleh tetap bertugas sesuai kebutuhan. Namun, semua itu harus tunduk pada tujuan yang lebih besar: melayani masyarakat dengan adil dan bertanggung jawab.

Khutbah selesai ketika khatib turun dari mimbar. Bagi seorang pemimpin, pesan amanah justru mulai menghadapi ujian setelah itu. Bagi para bawahannya, khutbah tersebut dapat menjadi pengingat bahwa kepatuhan kepada atasan tidak cukup tanpa tanggung jawab moral dalam menjalankan tugas.

Di rumah Tuhan, sang jenderal menyampaikan nasihat. Di luar masjid, dirinya dan seluruh “rengrengan” memperoleh kesempatan untuk membuktikan maknanya. Sebab, pangkat menunjukkan kedudukan, tetapi cara seseorang menggunakan kewenangannya menunjukkan kualitas amanah yang ia pikul.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA