Malahayati, Nasionalisme dan Kejayaan Maritim

Jumat, 21 Agustus 2026, 05:27 WIB
Malahayati, Nasionalisme dan Kejayaan Maritim
Ilustrasi. (Foto: AI)
Kecil Besar
DIA adalah tentang perempuan yang menjadikan laut sebagai halaman pertama perjuangan dan keberanian sebagai warisan untuk sebuah bangsa.
HUT RMOL news

Embun laut menyambut pagi dan menyapa rerumputan yang melambai, ketika angin dari Selat Malaka membawa aroma garam dan rempah-rempah seperti menghubungkan garis takdir bagi seseorang.  Baginya lautan laksana kitab raksasa yang belum selesai dibaca. Orang itu adalah anak perempuan yang matanya tajam, jauh menatap cakrawala. 

Ia adalah Keumala Malahayati. Seseorang yang ditempa oleh ombak, dibesarkan oleh angin, dan dikenang oleh samudra. Kisahnya kelak melegenda sebagai ratu samudra dari Aceh.    

Di abad 16, ketika dunia sedang berubah oleh layar-layar kapal Eropa yang berekspedisi membawa perdagangan, penyebaran agama, dan peperangan, Aceh berdiri sebagai salah satu kerajaan paling kuat di Asia Tenggara. Pelabuhan Bandar Aceh Darussalam sudah riuh dan ramai. Kapal-kapal dari Gujarat, Arab, Turki, Persia, Tiongkok, hingga Nusantara berlabuh silih berganti. Di sana, rempah-rempah lebih berharga dari pada emas.    

Ketika dunia belum mengenal internet, satelit luar angkasa, dan pesawat. Laut menjadi satu-satunya penghubung dunia. Lautan menjadi jalan raya antar benua.    

Selat Malaka menjadi salah satu koridor utama perdagangan dunia, ia menjadi jalur penting jaringan maritim. Jalur ini menjadi ruang ekonomi dan politik yang menjadi ajang perebutan sumber daya dan akses strategis. Dan Aceh berada tepat di pintu gerbang dari jalur laut yang menghubungkan Samudra Hindia dengan jaringan Laut Merah serta dengan berbagai kawasan di Asia.     

Terbitlah diktum politik yang diyakini di masa itu: siapa yang menguasai laut akan memiliki pengaruh perdagangan. Siapa yang menguasai perdagangan akan mengubah peta kekuasaan dunia. Itulah yang mengundang kapal-kapal Eropa berdatangan. Mereka datang mencari rempah-rempah. Kala itu, rempah menggerakkan ekonomi dunia jauh sebelum minyak bumi menjadi sumber energi global. Dengan kata lain, terdapat perebutan kekuasaan dunia di balik rempah-rempah Nusantara dan jalur strategis di bumi pertiwi.    

Malahayati tumbuh di tengah deru zaman yang bergolak ini. Dalam historiografi disebut sebagai awal modern, fase di mana penjelajahan, revolusi ilmiah, pencerahan Eropa, dan kolonialisme saling berkelindan dan tumpang-tindih.    

Sejak kecil ia menyaksikan bagaimana laut menjadi sumber kehidupan sekaligus ancaman. Kapal-kapal asing berdatangan dengan berbagai wajah. Ada yang datang untuk berdagang. Ada pula yang datang dengan meriam. Pada titik inilah, dirinya memetik pelajaran penting: bangsa yang memunggungi laut akan kehilangan masa depannya.    

Malahayati berasal dari keluarga bangsawan militer. Kakeknya adalah laksmana, ayahnya adalah pemimpin militer. Tetapi warisan terbesar yang ia petik bukanlah tentang garis keturunan, melainkan keberanian. Keberanian untuk menghadapi takdir dan menuliskan sejarah.    

Ketika perempuan di banyak tempat dibatasi oleh tembok-tembok adat dan tradisi. Aceh memiliki pandangan yang berbeda. Kesultanan Aceh memberi ruang bagi perempuan untuk memimpin, belajar, bahkan memegang senjata. Malahayati menempuh pendidikan militer di Mahad Baitul Maqdis, akademi yang melatih para calon perwira Kesultanan Aceh. Di sana ia mempelajari strategi perang, navigasi laut, diplomasi, dan kepemimpinan militer.    

Menjelang akhir 1500an, dimulai fase yang keras yang menandai berbagai pertempuran. Nusantara sebagai wilayah strategis berubah menjadi arena pertempuran. Ia berubah menjadi medan perebutan akses, komoditas, pasar, dan sumber daya oleh berbagai armada perang yang berusaha menguasai jalur perdagangan. 

Kemudian hidup memberikan Malahayati pelajaran yang tidak diajarkan di sekolah: kehilangan. Suaminya gugur dalam peperangan melawan armada Portugis. Alih-alih dirundung duka dan kesedihan, kehilangan ini melecut energi perjuangannya. Ia menjadikan luka sebagai sumber kekuatan. 

Dari para perempuan yang kehilangan suami dalam peperangan, Malahayati membentuk laskar Inong Balee. Kesultanan Aceh tidak memposisikan para janda sebagai orang-orang yang menunggu di belakang garis depan, melainkan mengubahnya menjadi bagian dari pertahanan Aceh. Dalam organisasi yang dikomandoi oleh Malahayati, kehilangan berubah menjadi keberanian kolektif untuk meneruskan perjuangan.

Bergerak lebih lanjut Malahayati membentuk organisasi, institusi, pengetahuan, dan jaringan sosial. Di pesisir Aceh dibangun Benteng Inong Balee. Benteng ini berdiri menghadap laut dan dilengkapi lubang-lubang meriam yang diarahkan ke pintu teluk. Fungsi benteng ini tidak hanya sebagai pusat pertahanan, tetapi mencakup tempat pelatihan militer bagi pasukan perempuan Aceh.

Di bawah kepemimpinan Malahayati, pasukan Inong Balee berkembang menjadi kekuatan militer yang diperhitungkan. Kesultanan Aceh kemudian mendapuk Malahayati dalam jabatan penting militer untuk mengoordinasikan pertahanan laut. Pada titik ini tersimpan pelajaran sejarah menarik tentang korban sejarah yang tidak lagi menjadi objek, melainkan menjadi subjek yang menentukan sejarah itu sendiri.
    
Lalu tibalah tahun 1599, dua kapal Belanda Leeuw dan Leeuwin memasuki wilayah Aceh. Di atas kapal berdiri dua bersaudara yang memimpin armada ekspedisi: Cornelis dan Frederick de Houtman. 

Belanda saat itu belum menjadi kekuatan kolonial yang menguasai Indonesia. Mereka baru mulai mencari jalan untuk menguasai perdagangan rempah-rempah. Pelayaran ini menjadi bagian dari ekspansi dagang Belanda ke wilayah Asia. 

Kedatangan Belanda di Aceh, dari hubungan yang awalnya bersifat dagang berubah menjadi ketegangan. Konflik pun pecah karena pelanggaran kesepakatan oleh Belanda. Bagi kesultanan Aceh tindakan ini dianggap penghinaan. 

11 September 1599, terjadi pertempuran besar pasukan Inong Balee di bawah kepemimpinan Malahayati menghadapi armada Belanda di bawah komando De Houtman. Dalam duel satu lawan satu Malahayati berhasil mengalahkan Cornelis de Houtman. Kapten Belanda itu tersungkur dan menemui ajalnya. 

Peristiwa itu menggema melampaui Selat Malaka. Dunia mencatat peristiwa yang tidak biasa. Seorang perempuan Nusantara memimpin pasukan dan mengalahkan salah satu tokoh penting ekspedisi Eropa ke berbagai belahan dunia. Setelah peristiwa Malahayati--De Houtman, Belanda membentuk VOC pada tahun 1602, VOC kemudian menjadi kamar dagang terbesar di dunia. Dengan kata lain, Malahayati berhadapan dengan sebuah dunia yang sedang bergerak menuju bentuk baru imperialisme: ketika kepentingan dagang mulai bertransformasi menjadi kekuasaan politik.

Malahayati tidak meninggalkan buku filsafat dan teori politik. Tidak ada manifesto yang ditulis dengan tinta di atas kertas. Tetapi tindakannya menggelegar dalam sejarah dan menjadi legenda.    

Namun yang jauh lebih penting dalam kisah Keumala Malahayati: Perjuangannya memberikan pesan penting tentang kedaulatan dan kemampuan menentukan nasib sendiri; tentang laut sebagai ruang strategis dan halaman depan pembangunan Nusantara; tentang perempuan sebagai kekuatan politik dan pertahanan bangsa; tentang ekonomi dan pertahanan tidak dapat dipisahkan dari kedaulatan; dan tentang perdagangan tanpa kedaulatan dapat berubah menjadi ketergantungan. 

Kisah Malahayati adalah cerminan bahwa bangsa yang kehilangan kendali atas jalur ekonominya pada akhirnya rentan kehilangan kendali politiknya. Malahayati adalah kisah tentang kedaulatan. Ia adalah pesan penting sejarah kepada masa depan Nusantara bahwa jangan pernah memunggungi laut untuk membangun peradaban besar. 

Malahayati hidup dan berjuang saat Sumpah Pemuda, Proklamasi, dan Republik belum lahir. Tetapi terdapat sesuatu yang hakiki: kehendak untuk tidak ditundukkan dan kehendak untuk tidak takluk. 

Sejarah Indonesia tidak muncul dari ruang kosong. Ia memiliki akar yang panjang dari kisah kerajaan-kerajaan, jaringan perdagangan, ulama, masyarakat pesisir, adat dan budaya, hingga perlawanan terhadap Portugis, Belanda, Inggris, dan kekuatan asing lainnya. 

Malahayati adalah salah satu bagian penting dari mata rantai panjang itu. Keberaniannya adalah salah satu akar panjang dari Indonesia modern. Ia adalah salah satu leluhur historis dari gagasan yang kemudian kita sebut: Kedaulatan Indonesia. rmol news logo article


Mikhail Adam

Peneliti Nusantara Centre
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

< SEBELUMNYA

Mesin Desil

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA