Kritik itu Menyehatkan

Jumat, 24 Juli 2026, 02:57 WIB
Kritik itu Menyehatkan
Ilustrasi. (Foto: AI)
Kecil Besar
"KRITIK mungkin tidak menyenangkan, tetapi itu perlu. Itu memenuhi fungsi yang sama dengan rasa sakit di tubuh manusia. Itu menarik perhatian pada keadaan yang tidak sehat." (Winston Churchill)

Kritik sering kali dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Banyak orang merasa tersinggung  ketika menerima kritik. 

Reaksi ini wajar, karena kritik sering kali menyentuh aspek yang mungkin belum kita sadari atau terima. 

Namun, jika kita mampu mengubah perspektif kita terhadap kritik, kita bisa melihatnya sebagai alat yang berharga untuk berkembang, bukan sebagai ancaman atau merusak citra diri.

Kritik bisa menjadi teman berpikir yang membantu kita merenungkan keputusan, tindakan, dan langkah-langkah ke depan dengan lebih bijaksana. Apalagi sebagai pengemban amanah rakyat. 

Kritik merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sosial. Kritik muncul disebabkan dari perbedaan pandangan maupun pendapat atas suatu kebijakan ataupun suatu permasalahan yang muncul di tengah-tengah masyarakat.

Dalam Islam, kritik termasuk bagian dari amar ma’ruf nahi munkar, yaitu mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Namun, tujuan utama kritik bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk memperbaiki.

Rasulullah SAW mencontohkan cara menegur yang penuh hikmah, lembut, dan menjaga kehormatan orang lain. Oleh sebab itu, kritik harus disampaikan dengan adab dan niat yang lurus.

Pada sisi lain, diamnya suatu kelompok atau suatu warga masyarakat dalam melihat kemajuan suatu pemerintahan bukanlah berarti warga atau kelompok masyarakat itu puas atas produk sebuah kebijakan publik yang dibuat oleh sebuah pemerintahan.

Bisa jadi diamnya  dan tidak bersuaranya warga dan sebuah kelompok masyarakat itu mencerminkan sebuah kondisi yang tidak peduli.  

Semua itu bisa diartikan sebagai suatu sikap apatis atau ketidakpedulian warga atas produk suatu pemerintahan. 

Dan fenomena apatisnya warga terhadap sebuah produk pemerintah yang inheren dengan sikap masa bodoh menunjukkan sebuah kemunduran bagi sebuah pemerintahan.

Bagaimana pun juga sikap kritis sekelompok orang atau warga masyarakat sangat penting dalam membangun kemajuan sebuah pemerintahan. 

Tanpa sikap kritis dari warga atau sekelompok warga, tentu sebuah pemerintahan tidak dapat menilai performance kinerjanya dan produk yang dihasilkannya untuk kepentingan publik.

Kritik sering terasa tidak nyaman, tetapi justru di situlah letak kepedulian yang sesungguhnya. Orang yang mau mengkritik berarti ia masih memperhatikan arah hidupmu, masih peduli apakah kamu berkembang atau justru terjebak dalam kesalahan yang sama. Kritik adalah bentuk perhatian yang tidak selalu manis, tapi jujur.

Ibn Hazm menekankan bahwa hubungan yang sehat bukan yang selalu menyenangkan, melainkan yang berani menghadirkan kebenaran. 

Seseorang yang benar-benar peduli tidak akan membiarkan temannya terus salah hanya demi menjaga suasana tetap nyaman. Ia tahu bahwa diam bisa menjadi bentuk pengabaian.

Kebebasan berbicara merupakan buah pikiran yang otonom. Dilindungi oleh konstitusi negara. Menjadi elemen penting dalam membangun kemajuan sebuah pemerintahan. 

Sikap kritis dari warga dan suara kritis sekelompok warga adalah nutrisi penting dalam membangun tubuh sebuah pemerintahan yang Berkemajuan untuk kesejahteraan warga masyarakat.

Menurut Rocky, masyarakat saat ini cenderung abai pada substansi dan berfokus pada sensasi. 

Saat ini momen berpikir kritis adalah sebuah kelangkaan, sehingga penting dilakukan upaya-upaya untuk mengaktifkan kapasitas kritis manusia. Mengaktifkan pikiran kritis artinya mempertanyakan apa yang terjadi.

Kritik adalah nutrisi penting untuk asupan bagi sebuah pemerintahan. Tanpa adanya gizi yang sehat, maka tubuh sebuah pemerintahan akan lemah.

Kritik bergizi dan jujur tentu dibekali dengan data dan  dalam bungkusan aroma yang konstruktif. Kritik tidak bisa dilakukan dengan cara membabi buta dan seenak perut sang penyuara. Apalagi dengan cara mencaci maki tanpa data.

Sebuah pemerintahan justru harus hati-hati bila nyanyian pujian yang muncul berdatangan. Apalagi suara pujian itu bergaung nyaring tanpa didukung dengan data dan parameter yang terukur dan akurat.

Sebaliknya, orang yang menganggap enteng kesalahanmu sering kali terlihat lebih “baik” di permukaan. Mereka tidak menegur, tidak mengoreksi, dan membiarkan semuanya berjalan seolah tidak ada masalah. 

Namun di balik sikap itu, sebenarnya ada ketidakpedulian. Mereka tidak cukup peduli untuk terlibat dalam perbaikanmu.

Karena itu, penting untuk belajar membedakan mana kritik yang tulus dan mana sikap acuh yang dibungkus kenyamanan. 

Kritik yang jujur mungkin melukai ego, tetapi ia menjaga masa depanmu. Sementara sikap yang selalu membenarkan justru perlahan membiarkanmu jatuh tanpa peringatan.

Demokrasi akan mati tanpa adanya kritik dan suara kritis dari publik. Sebuah pemerintahan menjadi lemah tanpa adanya suara kritis dari warga dan kelompok masyarakat.

Di alam demokrasi, pemerintah yang jujur, tentu menyukai kritik yang keras bahkan miring sekalipun dari  warganya sebagai elemen untuk berbenah, introspeksi demi kemajuan sebuah pemerintahan.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan. Awas ada air keras. "Kritik positif adalah teman yang baik. Sanjungan yang tidak tulus adalah teman palsu." (Dr. T.P. Chia). rmol news logo article


Rusmin Sopian
Jurnalis dan pegiat literasi tinggal di Bangka-Belitung


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA