Ironisnya, sejarah mencatat bahwa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada tahun 1945--empat tahun lebih awal sebelum Mao Zedong mendeklarasikan Republik Rakyat Tiongkok pada tahun 1949. Namun hari ini, lintasan sejarah kedua peradaban ini tampak terbalik secara tragis.
Tiongkok telah melejit menjadi kekuatan superpower baru, menyisakan Amerika Serikat sebagai satu-satunya lawan tanding yang sepadan di panggung global. Dominasi militer, lompatan teknologi kecerdasan buatan, dan ledakan ekonomi mereka bukan lagi sekadar ambisi, melainkan realitas absolut. Mengejar Tiongkok hari ini tampaknya telah menjadi hilal yang mustahil bagi Indonesia.
Mengapa peradaban kita tertinggal? Filsuf Ibnu Khaldun dalam teori Ashabiyah mengingatkan bahwa kejayaan sebuah bangsa runtuh ketika solidaritas sosial membusuk akibat egoisme para penguasa yang hanya sibuk menimbun harta.
Di Indonesia, panggung politik setiap hari hanyalah sirkus perebutan kekuasaan. Ketika memimpin, ambisinya bukan menyejahterakan rakyat, melainkan melanggengkan dinasti dan memperkaya diri. Layar kaca dan media sosial kita setiap hari disesaki komedi getir: penangkapan korupsi yang tak kunjung usai dan cibiran netizen yang tak mengubah apa-apa, sementara rakyat jelata semakin terhimpit kesengsaraan.
Kita sering kali terjebak dalam delusi moral. Bangsa ini gemar mengolok-olok kaum komunis di Tiongkok sebagai peradaban "tak bertuhan". Namun, mari bercermin dengan jujur: apa gunanya label beragama jika moral manusianya bejat dan penuh kemunafikan?
Tiongkok yang mereka sebut sekuler justru berhasil menegakkan keadilan sosial dan mengentas ratusan juta rakyat dari kemiskinan. Sementara kita, yang merasa paling suci, justru mengkhianati nilai-nilai ketuhanan itu melalui korupsi yang terstruktur dan penindasan terhadap kaum lemah.
Apakah masih ada harapan? Harapan itu ada, bukan untuk bersikap utopis menyaingi hegemoni global Tiongkok, melainkan untuk menuntut hal paling mendasar: kesejahteraan dan keadilan sosial yang riil. Indonesia harus bangun dari tidur panjangnya. Kita tidak butuh jargon-jargon agama yang dijadikan topeng politik. Yang kita butuhkan adalah revolusi moralitas dan kepemimpinan yang radikal.
Sejarah tidak pernah memihak pada bangsa yang malas dan munafik. Jika kita tidak segera berhenti bertengkar demi remah-remah kekuasaan, Indonesia hanya akan menjadi catatan kaki dari kebesaran peradaban lain yang pernah membentang di Asia. Saatnya bertindak, atau bersiap punah dalam ketertinggalan.
Salim. M. Phill
Ketua Dewan Pakar KPPMPI, Kandidat Doktor Universitas Airlangga
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: