Seolah-olah, hari ini kita dipaksa untuk hidup di antara dua kutub yang sangat ekstrem. Di satu sisi, ada yang dengan cepat melabeli setiap kritik sebagai bentuk kebencian atau ancaman terhadap negara. Sementara di sisi yang berseberangan, ada pula yang sudah antipati sejak awal, menganggap apa pun yang dilakukan pemerintah pasti salah dan harus dilawan. Padahal, kalau kita mau jujur dan menengok kembali sejarah, republik ini tidak pernah dibangun oleh dua kubu yang saling meniadakan semacam itu. Indonesia lahir dari meja perdebatan yang tajam, keras, namun tetap merawat rasa hormat antar sesama pendiri bangsa.
Dari sanalah saya sadar, kita perlu belajar lagi untuk berpikir selayaknya seorang negarawan. Kedewasaan bernegara itu diuji ketika kita mampu membedakan dengan jernih: mana kritik yang niatnya memang untuk membangun peradaban, dan mana keriuhan yang sekadar sengaja diciptakan untuk memperkeruh suasana. Kita dituntut untuk lebih peka membaca keadaan, memisahkan mana yang murni jeritan kepentingan rakyat, dan mana yang sekadar riak dari kepentingan segelintir elite yang sedang bermain di balik layar.
Apalagi kalau kita melihat realitas hari ini. Di era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, kapal besar bernama Indonesia ini sedang berlayar di perairan yang sama sekali tidak tenang. Kita dihadapkan pada ekonomi global yang serba tidak pasti, konflik geopolitik yang merambat ke mana-mana, hingga persaingan antarnegara yang semakin brutal. Dalam himpitan krisis multidimensi ini, logika sederhananya adalah kita butuh persatuan yang sangat kuat. Tapi persatuan itu tidak boleh mematikan nalar kritis; ia harus berjalan beriringan dengan ruang kritik yang tetap dibiarkan hidup dan sehat.
Pemerintah tentu harus selalu menyediakan telinga untuk mendengar keluh kesah rakyatnya. Namun, di saat yang sama, kita sebagai elemen masyarakat khususnya rekan-rekan mahasiswa dan generasi muda juga punya tanggung jawab moral yang tak kalah besar. Kita harus memastikan bahwa setiap kritik yang keluar dari mulut kita adalah buah dari kajian yang mendalam, ditopang oleh data yang valid, dan didorong oleh niat tulus untuk memperbaiki keadaan. Bukan sekadar ikut-ikutan tren yang sedang viral, atau tanpa sadar malah menjadi bidak catur dari pihak-pihak tertentu.
Berbicara tentang mahasiswa, ingatan saya selalu kembali pada sebuah khitah: mahasiswa adalah kekuatan moral bangsa. Namun, kekuatan moral itu tidak akan pernah terwujud hanya bermodalkan urat leher yang menegang atau teriakan di jalanan.
Kekuatan itu harus berakar dari kedalaman intelektual. Ketika ruang-ruang diskusi mulai sepi, ketika kita lebih suka marah-marah di kolom komentar ketimbang membaca buku dan mengkaji masalah, di situlah sebuah gerakan perlahan kehilangan arahnya. Gerakan yang kosong dari gagasan akan sangat mudah dibajak oleh kepentingan-kepentingan gelap.
Saya paham, generasi kita hari ini dihadapkan pada tumpah ruahnya informasi. Namun masalah kita hari ini bukan lagi soal mencari informasi, melainkan bagaimana kita menyaringnya. Kita hidup di zaman yang cukup mengerikan, di mana opini pribadi sering dikemas seolah menjadi kebenaran mutlak, potongan video beberapa detik dianggap mewakili realitas utuh, dan viralitas dijadikan ukuran kebenaran.
Sering kali saya bergumam dalam hati, seandainya saja kita mau menarik napas sejenak. Sebelum kita meluapkan amarah, mari kita coba pahami dulu konteksnya. Sebelum kita terburu-buru menghakimi, mari kita luangkan waktu untuk mengkaji duduk perkaranya. Dan sebelum kita fanatik memilih kubu untuk dibela, mari kita mundur selangkah agar bisa melihat persoalan bangsa ini secara lebih utuh.
Dari semua renungan ini, ada satu pertanyaan yang terus mengganggu pikiran saya: Apakah gerakan mahasiswa dan anak muda hari ini masih dibangun di atas fondasi intelektual yang kuat, atau mulai terjebak dalam politik viral dan pertarungan narasi di media sosial?
Merespons pertanyaan ini, saya berusaha memberikan jawaban dari pandangan saya secara jujur. Kenyataannya, kedua hal itu sedang terjadi bersamaan saat ini. Kita tidak bisa menampik bahwa ada gelombang aktivisme yang perlahan terseret arus "politik algoritma". Banyak isu penting dan kompleks yang direduksi menjadi sekadar konten demi mengejar engagement. Kadang kita merasa sudah selesai berjuang hanya dengan menaikkan tagar hingga trending, padahal perubahan di akar rumput sama sekali belum tersentuh.
Tapi saya menolak untuk menjadi pesimis. Saya masih melihat fondasi intelektual itu menyala, meski wujudnya telah bertransformasi. Banyak kawan-kawan muda yang kini bergerak lewat riset data, membangun platform transparansi publik, dan membuat analisis kebijakan yang tajam namun mudah dipahami publik.
Mereka membuktikan bahwa viralitas dan algoritma media sosial itu hanyalah sekadar "kendaraan". Selama kendaraan itu dikemudikan oleh fondasi intelektual yang kuat, ia bisa membawa gerakan ini melesat jauh lebih cepat dan berdampak.
Pada akhirnya, semuanya berpulang pada komitmen kita. Indonesia ini terlalu berharga untuk dijadikan arena pertarungan kepentingan sempit. Kita boleh beda pandangan politik, sah-sah saja beda pilihan, bahkan beda cara dalam berjuang. Tapi komitmen untuk menjaga Indonesia agar tetap utuh dan damai adalah harga mati.
Bangsa ini tidak butuh lebih banyak kebencian. Kita butuh lebih banyak kebijaksanaan. Mari kita buktikan bahwa kita adalah generasi yang punya nyali untuk mengkritik saat negara salah, sekaligus punya kebesaran hati untuk mendukung saat negara berada di jalur yang benar. Kecintaan kita pada tanah air tidak diukur dari seberapa keras kita berteriak, tapi dari seberapa nyata kontribusi kita merekatkan retakan-retakan di tengah masyarakat.
Indonesia tidak akan hancur hanya karena kita berbeda pendapat. Indonesia justru berada di ambang kehancuran ketika kita berhenti saling bicara dan mulai menganggap saudara sendiri sebagai musuh.
Mari jaga Indonesia. Mari rawat iklim demokrasi ini. Mari membiasakan diri berpikir layaknya seorang negarawan, bukan sekadar penonton yang larut ditelan kegaduhan zaman.
Herianto
Eks Koordinator Pusat BEM SI
BERITA TERKAIT: