Hingga di titik tertentu, pihak yang semula menerima kehadirannya justru kehilangan kendali atas rumahnya sendiri. Pendatang itu bukan lagi tamu, tapi telah menjadi penentu. Dalam geopolitik, inilah yang disebut Absentee of Lord. Tuan tanah yang tidak berpijak di tanahnya sendiri. Dikenal juga istilah, menjadi babu di rumah sendiri.
Dari sudut pandang inilah sebagian kalangan memandang Zionisme Internasional sebagai “parasit politik” yang hidup dan berkembang dalam tubuh bangsa lain. Analogi ini tentu masih diperdebatkan. Tetapi menarik untuk ditelaah karena terus muncul dalam berbagai diskursus geopolitik hingga hari ini. Israel, bangsa yang terusir dari berbagai kawasan karena selalu menimbulkan persoalan yang mengkuatirkan hubungan kemanusiaan.
Dari Pengungsi Menjadi Negara
Israel lahir dalam situasi yang tidak biasa. Berbeda dengan banyak negara yang tumbuh dari suatu wilayah dan penduduk yang relatif menetap selama berabad-abad, Israel lahir dari gelombang migrasi Yahudi yang datang dari berbagai penjuru dunia.
Bahwa Israel hanya sebuah bangsa, bukan suatu negara. Tatkala memproklamirkan diri tahun 1948-an, --seperti halnya Amerika Serikat (AS), Australia dan juga New Zealand--, Israel pantas disebut negara imigran atau pengungsi. Sudah menjadi hukum alam. Ibarat menumpang hidup di tanah yang bukan miliknya, suatu saat nanti bakal terusir dari tanah yang didudukinya. Begitulah siklus waktu, ruang, tempat, dan momentum.
Akar proses tersebut dapat ditelusuri pada Deklarasi Balfour tahun 1917. Melalui deklarasi itu, Inggris mendukung pembentukan tanah air bagi bangsa Yahudi di Palestina. Pelbagai kalangan menyebut, dukungan Inggris itu karena Inggris mempunyai kepentingan yang sama dengan Israel. Yakni perlawanan terhadap tegaknya ajaran Islam. Alasan kedua, hal tersebut karena Inggris sudah dikuasai oleh segelintir orang di City of London, sementara kemenangan AS atas PD II menggambarkan kehadiran penguasa yang memiliki kepentingan yang sama dengan kepentingan City of London. Eksistensi ini berwujud jika tanah Palestina dikuasai.
Alasan lainnya, seperti yang disampaikan Donald J Trump saat berjumpa dengan Netanyahu Bersama Bolsonaro, Presiden Brazil beberapa waktu lalu. Trump setelah menyetujui perpindahan ibukota Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem mengatakan, pusat pemerintahan dunia di Washington, pusat Kerajaan dunia di London, dan pusat spiritual bumi di Yerusalem. Tiga alasan ini yang membuat Yahudi Askenzia berkeinginan dimakamkan di Yerusalem kendati dia mati di belahan dunia lain. Maka Israel mendapat dukungan Inggris dan AS. Dan dukungan tersebut kemudian menjadi pintu pembuka migrasi besar-besaran orang Yahudi ke wilayah yang saat itu telah dihuni mayoritas bangsa Arab Palestina.
Pada tahun 1948 Israel memproklamasikan kemerdekaan. Pertanyaannya, siapa yang menindasnya, siapa yang menjajahnya, tanah mana yang diduduki penjajah? Pertanyaan ini sulit dijawab karena memang pada tahun itu tidak tercatat dalam peta tanah asli Israel di Palestina. Sejak saat itu, berbagai perang, konflik, dan perundingan terjadi silih berganti. Namun, satu fakta tidak berubah: Israel tetap eksis dan bahkan tumbuh menjadi salah satu kekuatan paling berpengaruh di Timur Tengah. Eksistensi ini bukan karena kemampuan sendiri, tapi berkat bantuan AS dan Inggris.
Bagi para pendukungnya, keberhasilan itu merupakan bukti ketangguhan bangsa Yahudi. Akan tetapi, bagi para pengeritiknya, keberhasilan tersebut justru memperlihatkan kemampuan Zionisme membangun pengaruh di atas tanah yang sebelumnya dihuni bangsa lain. Bayangkan, ketika Anda memiliki tanah dan rumah lengkap dengan berbagai dokumen, lalu Israel dengan semena-mena mengusir Anda baik dengan kekerasan maupun dengan berbagai tekanan.
Aliyah: Budaya Kepulangan atau Ekspansi?
Dalam tradisi Yahudi dikenal istilah aliyah, artinya "naik" atau "kembali", juga bermakna tertinggi. Konsep ini menjadi salah satu fondasi Zionisme Modern, yaitu keyakinan bahwa orang Yahudi dari mana pun berhak kembali ke Tanah Perjanjian karena memang bangsa Yahudi yang tertinggi di muka bumi hingga abad ke 7 M. Setelah Muhammad SAW wafat, hak istimewa dicabut karena tindakannya yang durhaka dan melampui batas.
Maka melalui Undang-Undang Kepulangan, setiap Yahudi di dunia berhak memperoleh kewarganegaraan Israel. Akibatnya, Israel tidak hanya menjadi negara, melainkan juga pusat konsolidasi identitas global bangsa Yahudi. Israel memberlakukan azas ius sanguinis dan ius soli. Konsep ini bersama dengan eksistensi dan dukungan AS dan Inggris menjadi fasilitas dan sarana utama politik guna memperkuat dominasi Israel melalui migrasi yang terus berlangsung. Bahkan melalui penguasaan fiat money, teknologi dan militer yang kemudian dikenal dengan sebutan financial-military industrial complex, Israel mempertahankan keberadaan dan sekaligus memperluas pengaruhnya di panggung global.
Falsafah Parasit
"Parasit" dalam tulisan ini bukan bermakna biologis, melainkan metafora politik. Parasit hidup dengan menempel pada organisme lain. Ia memperoleh manfaat dari inangnya, berkembang di dalamnya, lalu pada titik tertentu melemahkan tubuh yang ditumpanginya, bahkan membunuhnya.
Menurut para pengeritik Zionisme, pola serupa terlihat dalam berbagai peristiwa sejarah. Zionisme dinilai tidak selalu hadir melalui kekuatan militer. Ia juga bergerak melalui pengaruh ekonomi, jaringan bisnis, media, pendidikan, lembaga politik, hingga kelompok lobi.
Ketika pengaruh tersebut telah mengakar, arah kebijakan suatu negara perlahan dapat berubah sesuai kepentingan jaringan mereka sendiri (yang lebih besar).
Apakah tuduhan itu benar? Tentu masih menjadi perdebatan. Namun, itulah dasar mengapa sebagian pihak menyebut Zionisme sebagai "parasit politik global". Biasanya bukti yang menyudutkan Israel, AS dan Inggris dilawan dengan jargon, itu teori konspirasi, itu isu hisapan jempol, sebaiknya kita mengkaji realitas daripada membahas apa yang ada di balik realitas. Perdebatan ini telah melahirkan ratusan buku sejak City of London, Federal Reserve, Trilateral Commission, Bilderberg, Council of Foreign Relation, dan sejumlah korporasi global menunggangi negara-negara G7, lembaga-lembaga multilateral, dan sejumlah NGO internasional.
Dalam konteks kekinian, mereka risau dengan dedolarisasi, mereka gundah dengan luruhnya hegemoni predatorik, dan yang terpenting mereka risau karena legitimasi kepercayaan dan moral global mereka runtuh disebabkan perilaku Israel sendiri. Mereka mengira, bahwa mereka menganiaya dan menipu bangsa lain, padahal mereka menganiaya dan menipu diri sendiri.
Duri di Tubuh Zionisme
Menariknya, tidak semua Yahudi mendukung Zionisme. Kelompok Yahudi Ortodoks seperti Neturei Karta secara terbuka menolak pendirian negara Israel. Mereka berpendapat bahwa Zionisme telah mengubah ajaran agama menjadi projek politik. Penulis pernah tatap muka dengan Yahudi Ortodoks. Sangat jelas mereka lemah lembut, menjalankan 10 amanah yang diperintahkan, walau tetap bersikap sebagai kaum yang diistimewakan. Mereka menolak pencabutan hak istimewa dan menolak dipergilirkan. Pesta akan berjalan terus tanpa akhir.
Bagi kelompok ini, bangsa Yahudi memang memiliki identitas keagamaan, tetapi tidak berarti harus membangun negara melalui kekuatan politik dan militer.
Keberadaan kelompok-kelompok semacam ini menunjukkan bahwa Zionisme dan Yahudi bukanlah dua istilah yang selalu identik. Ya, karena Yahudi sendiri terdiri dari berbagai aliran.

(Bersambung)
Ichsanuddin Noorsy dan M Arief Pranoto
Pakar ekonomi politik
BERITA TERKAIT: