Selamat Idul Fitri
Selamat Idul Fitri Mudik

Membaca Skenario Merancang Operasi Gagal

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/safriady-5'>SAFRIADY*</a>
OLEH: SAFRIADY*
  • Selasa, 31 Maret 2026, 21:28 WIB
Membaca Skenario Merancang Operasi Gagal
Detik-detik Wakil Ketua KontraS, Andrie Yunus disiram air keras di Jakarta Pusat, Kamis, 12 Maret 2026. (Foto: tangkapan layar CCTV)
DUNIA perintelijen Indonesia tengah dihantam badai luar biasa. Tak biasanya, institusi yang selama ini bekerja dalam senyap justru terseret ke ruang publik dengan intensitas yang begitu tinggi.

Dalam tradisi intelijen modern sebagaimana dijelaskan oleh Sherman Kent, keberhasilan operasi justru diukur dari ketidakterlihatan (invisibility). Ketika operasi menjadi konsumsi publik, ada dua kemungkinan ekstrem, yaitu kegagalan operasional atau operasi persepsi yang disengaja.

Secara konvensional, publik cenderung memahami operasi semacam ini sebagai tindakan intimidasi langsung terhadap individu atau kelompok tertentu. Namun, jika ditelaah melalui kerangka intelligence studies, terdapat lapisan analisis lain yang lebih kompleks, yakni kemungkinan bahwa operasi tersebut bukan ditujukan untuk “berhasil” dalam arti sempit, melainkan untuk menghasilkan efek psikologis, sosial, dan politik yang lebih luas.

Tulisan ini mencoba menganalisis sisi dari fenomena yang terjadi belakangan ini termasuk dugaan keterlibatan unsur Badan Intelijen Strategis dalam kasus penyiraman terhadap aktivis yang tidak bisa dibaca secara linear sebagai insiden biasa.

Dalam kerangka intelligence studies, ini membuka tiga lapisan analisis sekaligus, yaitu operational failure (kegagalan operasi), deliberate exposure (eksposur yang disengaja) dan information warfare spillover

Konteks praktik intelijen modern, kategori “gagal” tidak selalu identik dengan ketidakmampuan. Dalam banyak kasus, kegagalan justru dapat menjadi instrumen dirancang, dikalkulasi, dan diarahkan untuk menghasilkan efek strategis yang tidak terlihat secara kasat mata.

Perspektif inilah yang relevan untuk digunakan ketika membaca insiden penyiraman terhadap aktivis KontraS.

Pertama, dari aspek operasional, insiden ini menunjukkan sejumlah anomali. Dalam standar tradecraft intelijen profesional, operasi yang melibatkan risiko eksposur tinggi biasanya dirancang dengan tingkat presisi yang ketat, baik dari sisi perencanaan, eksekusi, maupun exit strategy.

Namun, dalam kasus ini, pola eksekusi terlihat relatif terbuka, mudah terdeteksi, dan cepat memicu perhatian publik. Pada terminologi intelijen, kondisi seperti ini dapat mengindikasikan dua kemungkinan yaitu operasi yang buruk, atau operasi yang memang tidak dirancang untuk sepenuhnya tertutup.

Jika kita mengacu pada konsep designed failure operation, maka kegagalan bukanlah deviasi, melainkan bagian dari desain itu sendiri. Operasi semacam ini biasanya bertujuan untuk menguji respons, membentuk persepsi, atau mengirim sinyal tertentu kepada target yang lebih luas.

Dengan kata lain, “kegagalan” menjadi medium komunikasi strategis. 

Kedua, dalam konteks cognitive warfare, insiden ini memiliki potensi dampak yang jauh melampaui tindakan fisik itu sendiri. Penyiraman terhadap aktivis tidak hanya menciptakan efek intimidasi langsung, tetapi juga memproduksi rasa ketidakpastian di ruang publik.

Ketika pelaku tidak segera teridentifikasi, dan narasi yang berkembang bersifat spekulatif, maka yang terjadi adalah proliferasi persepsi bukan klarifikasi fakta.

Di sinilah media sosial memainkan peran krusial. Dalam ekosistem digital yang serba cepat, informasi yang belum terverifikasi dapat dengan mudah berkembang menjadi narasi dominan.

Fenomena ini dikenal dalam studi komunikasi sebagai information cascade, di mana publik cenderung mengikuti arus informasi yang paling banyak beredar, terlepas dari validitasnya. Dalam konteks ini, sebuah operasi yang “gagal” secara teknis justru dapat “berhasil” dalam membentuk persepsi kolektif. 

Ketiga, dimensi plausible deniability menjadi elemen penting dalam membaca kasus ini. Dalam banyak operasi intelijen, ambiguitas bukanlah kelemahan, melainkan aset. Dengan menjaga tingkat ketidakjelasan tertentu, aktor di balik operasi dapat menghindari akuntabilitas langsung sekaligus mempertahankan efek psikologis terhadap target.

Ketika publik tidak memiliki kepastian mengenai siapa pelaku sebenarnya, maka ruang interpretasi menjadi terbuka lebar dan di situlah kekuatan operasi tersebut terletak.

Dalam kasus yang melibatkan organisasi seperti KontraS, efek ini menjadi semakin signifikan. Sebagai lembaga yang bergerak di bidang advokasi hak asasi manusia, setiap bentuk intimidasi terhadap aktivisnya tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada ekosistem masyarakat sipil secara keseluruhan.

Jika insiden semacam ini tidak ditangani secara transparan dan akuntabel, maka yang muncul adalah chilling effect, yakni kondisi di mana individu atau kelompok menjadi enggan untuk bersuara karena takut terhadap konsekuensi yang tidak jelas.

Keempat, momentum kejadian juga tidak dapat diabaikan. Dalam analisis intelijen, timing seringkali menjadi indikator penting untuk memahami motif di balik suatu operasi.

Insiden yang terjadi di tengah dinamika politik atau keamanan tertentu berpotensi memiliki fungsi distraktif atau bahkan manipulatif. Dalam konteks ini, pertanyaan yang relevan bukan hanya “siapa pelaku”, tetapi juga “mengapa sekarang”. 

Namun demikian, penting untuk menjaga disiplin analitis agar tidak terjebak dalam spekulasi yang tidak berbasis bukti. Dalam studi intelijen, terdapat prinsip analytic rigor yang menuntut setiap hipotesis diuji berdasarkan data yang tersedia, bukan sekadar asumsi.

Oleh karena itu, dugaan keterlibatan institusi seperti Badan Intelijen Strategis harus ditempatkan dalam kerangka investigasi yang objektif dan berbasis fakta.

Di sisi lain, respons negara terhadap insiden ini menjadi indikator penting dalam menilai kualitas tata kelola keamanan. Transparansi, akuntabilitas, dan kecepatan penanganan merupakan tiga variabel kunci yang menentukan apakah negara mampu menjaga kepercayaan publik.

Ketika respons yang diberikan bersifat normatif atau minim substansi, maka ruang bagi spekulasi akan semakin besar.

Lebih jauh lagi, kasus ini membuka diskursus mengenai batas antara operasi intelijen dan ruang sipil. Dalam negara demokratis, aktivitas intelijen seharusnya diarahkan untuk melindungi kepentingan nasional tanpa mengorbankan hak-hak sipil.

Ketika terjadi indikasi bahwa ruang sipil menjadi target atau terdampak oleh operasi tertentu, maka diperlukan mekanisme pengawasan yang kuat untuk mencegah penyalahgunaan kewenangan.

Dalam perspektif yang lebih luas, insiden ini mencerminkan tantangan yang dihadapi Indonesia dalam menghadapi era grey zone conflict, di mana batas antara perang dan damai, antara operasi resmi dan tidak resmi, menjadi semakin kabur.

Dalam konteks ini, operasi yang bersifat ambigu, termasuk yang tampak “gagal” dapat menjadi instrumen yang efektif untuk mencapai tujuan strategis tanpa memicu eskalasi terbuka. 

Pada akhirnya, pertanyaan utama yang perlu diajukan bukan sekadar mengenai siapa pelaku atau apa motifnya. Yang lebih penting adalah memahami bagaimana insiden ini memengaruhi struktur persepsi publik, dinamika masyarakat sipil, dan kredibilitas institusi negara.

Lebih jauh, sasaran yang paling signifikan justru berada pada level strategis, yaitu persepsi publik. Ketika pelaku tidak jelas, narasi berkembang liar, dan ketidakpastian dibiarkan terbuka, maka yang terbentuk adalah efek psikologis kolektif rasa takut yang tidak terdefinisi namun meluas.

Di sinilah operasi yang tampak “gagal” dapat berfungsi efektif dalam domain cognitive warfare, karena yang dipengaruhi bukan hanya korban atau organisasi, tetapi kepercayaan publik terhadap rasa aman dan terhadap institusi negara. Dengan demikian, pertanyaan kunci bergeser bukan sekadar siapa yang diserang, melainkan siapa yang persepsinya sedang dibentuk.

Jika insiden ini sungguh merupakan kegagalan operasional, maka hal tersebut menunjukkan adanya kelemahan serius dalam sistem keamanan. Namun, jika kegagalan tersebut merupakan bagian dari desain, maka kita sedang berhadapan dengan bentuk operasi yang jauh lebih kompleks dan mungkin lebih sulit untuk diidentifikasi maupun dikendalikan.
 
Mengutip kalimat ahli perang Tiongkok ribuan tahun lalu, Sun Tzu berkata “Semua peperangan didasarkan pada penipuan. Karena itu, saat mampu, tampillah tidak mampu, saat menggunakan pasukan, tampillah tidak aktif”.

Di dunia intelijen, apa yang terlihat sering kali bukanlah keseluruhan cerita. Justru, yang perlu diwaspadai adalah apa yang sengaja dibuat terlihat karena di situlah strategi sebenarnya bekerja. rmol news logo article

*Pemerhati Isu Strategis & Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran
EDITOR: DIKI TRIANTO

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA