Berburu Tukang Sihir di Eropa Abad Pertengahan

Minggu, 22 Februari 2026, 04:21 WIB
Berburu Tukang Sihir di Eropa Abad Pertengahan
Ilustrasi sihir. (Foto: Istimewa)
UDARA di Lembah Rhine pada musim salju tidak hanya membawa hawa dingin. Ia juga membawa aroma kayu pinus dan rambut manusia yang terbakar. Saat panen gagal untuk ketiga kalinya dan wabah kembali datang, demam jenis baru telah menyebar. Ini bukan penyakit berdarah, melainkan penyakit pikiran: perburuan terhadap para penyihir telah tiba.

Karena sihir dianggap sebagai kejahatan yang tak terlihat, hukum mengizinkan tindakan luar biasa. Beberapa anggota masyarakat menyatroni terdakwa, mencari “tanda iblis"-- seperti tahi lalat atau bekas luka yang tidak berdarah saat ditusuk. Begitu tanda itu ditemukan, penyiksaan sadis pun dimulai.

Seorang wanita yang babak belur karena penyiksaan menyebutkan tiga orang lain yang konon dia lihat pada saat ritual Sabat di hutan. Ketiga orang itu akan menyebut sembilan nama lagi. Efek berantai inilah yang membuat kota Trier menjadi saksi 368 orang dipanggang dalam kobaran api hanya dalam satu dekade.

Perburuan penyihir di Eropa merupakan fenomena sejarah yang terjadi terutama antara abad ke-15 hingga abad ke-18. Meskipun sering dikaitkan dengan Abad Pertengahan, praktik ini mencapai puncaknya selama masa Renaisans dan awal Abad Pencerahan, yaitu antara tahun 1560 dan 1630.

Para sejarawan memperkirakan di seluruh Eropa sekitar 100 ribu orang diadili karena dituduh melakukan praktik sihir yang mengakibatkan 40 ribu hingga 60 ribu eksekusi. Jerman, yang kala itu masih berada di bawah Kekaisaran Romawi Suci, adalah wilayah yang paling banyak melakukan eksekusi dengan hampir 50 persen dari seluruh kasus. Pusat perburuan penyihir lainnya adalah Swis, Prancis, dan Skotlandia.

Jerman mencatat hampir 25 ribu hingga 30 ribu eksekusi, jauh melampaui negara-negara lain. Hal ini disebabkan oleh dua hal. Pertama, karena terjadinya fragmentasi politik. Tidak seperti Prancis atau Inggris yang memiliki hukum pusat yang kuat, Jerman terdiri dari ratusan wilayah kecil yang otonom. Penguasa lokal memiliki kebebasan penuh untuk melakukan pengadilan tanpa pengawasan dari otoritas yang lebih tinggi.

Kedua, karena terjadinya Perang Tiga Puluh Tahun (1618-1648). Perang ini menghancurkan ekonomi dan populasi Jerman. Ketakutan akan mata-mata, pengkhianat, dan intervensi iblis menciptakan ketakutan yang memicu perburuan penyihir secara massal.

Sebaliknya, eksekusi di Spanyol, Portugal, dan Italia jauh lebih sedikit, karena lembaga Inkuisisi menganggap sihir sebagai bentuk takhayul atau bid’ah kecil. Bukan kejahatan berat yang harus diganjar hukuman mati.

Sejarah perburuan penyihir di Eropa bukan sekadar cerita tentang takhayul yang dipercayai masyarakat, melainkan juga fenomena hukum yang dipicu oleh pergeseran cara pandang. Pada mulanya ketakutan terhadap penyihir berakar pada kepercayaan rakyat pada maleficia -- yaitu praktik sihir yang dianggap menyebabkan kerusakan fisik secara langsung.

Namun pengadilan terhadap penyihir menjadi penganiayaan massal setelah kaum elite intelektual memperkenalkan teori diabolisme.

Bagi masyarakat desa pada masa itu, sihir dipandang secara sederhana. Jika seekor ternak mati mendadak atau seorang anak jatuh sakit tanpa sebab, warga akan menuduh tetangga mereka melakukan maleficia

Fokus utamanya adalah kerugian materiil. Dalam kasus ini, konflik biasanya diselesaikan secara sederhana. Penyihir mencabut kutukannya atau memberi ganti rugi. Sihir pada level ini belum dianggap sebagai ancaman terhadap eksistensi agama atau negara.

Keadaan berubah total ketika kaum teolog, hakim, dan penguasa mulai mengaitkan sihir dengan pengkhianatan terhadap Tuhan. Melalui teori diabolisme, para elit berpendapat bahwa kekuatan penyihir tidak berasal dari mantra semata, melainkan dari perjanjian rahasia dengan iblis.

Penyihir tidak lagi dipandang sebagai individu, melainkan sebagai anggota dari konspirasi besar yang bertujuan meruntuhkan agama Kristen.

Cara pandang ini percaya pada konsep Sabat -- yaitu pertemuan rahasia di mana para penyihir dianggap berkumpul untuk memuja setan. 

Dengan mengubah sihir dari "kejahatan terhadap sesama" menjadi "kejahatan terhadap Tuhan", kaum elit memberikan legitimasi hukum -- menggunakan penyiksaan demi mendapatkan pengakuan dari para penyihir.

Pergeseran ini membawa dampak yang mengerikan. Ketika sihir dianggap sebagai konspirasi kolektif, satu pengakuan yang didapat melalui penyiksaan biasanya akan menyeret nama-nama lain sebagai pengikut setan. 

Inilah yang menyebabkan pengadilan yang tadinya bersifat lokal dan terbatas menjadi perburuan massal yang merenggut ribuan nyawa.

Dunia hukum bergeser dari pembuktian kerusakan yang nyata (maleficia) ke pembuktian niat dan kesetiaan batin (diabolisme). 

Tanpa campur tangan intelektual kaum elit yang mengubah definisi sihir ini, pengadilan penyihir mungkin tidak akan pernah mencapai skala tragedi yang kita kenal dalam sejarah.

Kondisi ini diperparah oleh munculnya literatur yang mengkonfirmasi ketakutan kaum elit. Salah satu yang paling berpengaruh adalah Malleus Maleficarum (Palu Para Penyihir) yang diterbitkan pada abad ke-15. Buku ini bukan sekadar kumpulan takhayul, melainkan panduan prosedur hukum dan teologis bagi para hakim. 

Dengan adanya landasan tertulis, kebenaran tentang diabolisme tidak lagi diperdebatkan. Ia menjadi fakta hukum yang harus dibasmi oleh negara. Dalam buku ini secara gamblang disebutkan bahwa wanita secara alami "lebih lemah dalam iman" dan "lebih mudah tergoda oleh nafsu" dibandingkan pria, sehingga lebih gampang dirayu oleh iblis.

Ini menciptakan lingkaran setan yang mematikan. Para hakim yang percaya pada teori diabolisme akan mencari bukti-bukti perjanjian dengan setan melalui penyiksaan. 

Hasilnya, para tersangka yang tidak tahan menanggung rasa sakit akhirnya mengakui hal-hal yang ingin didengar oleh penyidik -- seperti terbang di malam hari atau bertemu iblis -- yang pada gilirannya justru membuktikan bahwa teori kaum elite itu benar adanya.

Pergeseran ke arah diabolisme juga mengubah profil korban. Jika dalam konsep maleficia siapa pun yang memiliki perselisihan pribadi bisa jadi tertuduh, sedangkan dalam kepercayaan diabolisme, kelompok rentan menjadi sasaran utama. 

Perempuan, khususnya janda atau mereka yang termasuk kelompok marjinal, sering dianggap lebih mudah dirayu oleh iblis.

Dalam perkembangannya, perburuan tidak lagi hanya menyasar kaum marjinal, tetapi meluas hingga mengeksekusi ratusan orang dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk anak-anak dan pejabat tinggi pemerintahan, yang menunjukkan bahwa tidak ada yang aman dari tuduhan konspirasi setan.

Implementasi teori diabolisme mencapai titik paling mematikan dalam beberapa rangkaian pengadilan besar di Eropa antara abad ke-16 dan ke-17. Jerman menjadi salah satu wilayah paling parah. 

Di Trier (1581-1593), terjadi apa yang dianggap sebagai salah satu eksekusi massal terbesar di masa damai dalam sejarah Eropa, dengan sekitar 368 nyawa melayang. Korban meluas hingga ke Würzburg dan Bamberg (1626-1631).

Di Skotlandia, pengaruh kekuasaan terhadap pengadilan penyihir terlihat nyata dalam peristiwa North Berwick (1590). Pengadilan ini sangat dipengaruhi oleh Raja James VI, yang memiliki obsesi pribadi terhadap ancaman sihir. 

Pengalaman ini mendorongnya menulis buku Daemonologie, sebuah risalah yang memperkuat dasar teologis tentang bahaya sihir dan memberikan legitimasi bagi perburuan terhadap penyihir di seluruh wilayah Inggris Raya.

Inggris mencatatkan sejarah kelam melalui pengadilan Pendle (1612). Kasus ini menjadi salah satu yang paling terkenal karena prosedur hukumnya yang terdokumentasi dengan baik, yang berakhir dengan hukuman gantung terhadap sepuluh orang. 

Pengadilan ini menunjukkan bagaimana kecurigaan bisa berubah menjadi hukuman mati yang dilegalkan oleh sistem peradilan negara.

Eksekusi bukan sekadar hukuman, tapi pertunjukan di depan umum untuk menakut-nakuti masyarakat. Pembakaran di tiang adalah metode standar di daratan Eropa. 

Secara simbolis, api dianggap dapat memurnikan jiwa dan melenyapkan tubuh sepenuhnya sehingga penyihir tidak bisa bangkit kembali.

Pencekikan dianggap sebagai bentuk hukuman dengan belas kasihan. Terpidana dicekik sampai mati sebelum api dinyalakan. Hukum gantung adalah metode utama di Inggris. 

Berbeda dengan Eropa daratan, Inggris menganggap sihir sebagai tindak pidana biasa, bukan penyembahan setan yang bersifat religius, sehingga pelakunya dihukum gantung seperti pencuri atau pembunuh.

Sekitar 80 persen korban adalah wanita. Para sejarawan melihat beberapa alasan utama mengapa ini terjadi. Banyak wanita yang dituduh adalah janda atau wanita tua yang tidak lagi memiliki perlindungan dari laki-laki (ayah atau suami). 

Mereka bergantung pada bantuan tetangga. Ketika tetangga merasa terbebani, mereka melemparkan tuduhan sihir untuk memutus rasa bersalah karena tidak bisa lagi membantu.

Hal lainnya, karena wanita mendominasi peran sebagai bidan dan penyembuh penyakit. Jika bayi lahir mati atau ternak mati mendadak, bidan yang ada di lokasi menjadi sasaran empuk untuk dituduh melakukan maleficia (sihir jahat).

Berakhirnya pengadilan terhadap para penyihir di kemudian hari tidak terjadi karena sihir menghilang, melainkan karena standar pembuktian hukum mulai bergeser. 

Seiring dengan munculnya Abad Pencerahan, para hakim mulai meragukan keabsahan pengakuan yang didapat melalui penyiksaan. Mereka mulai menyadari bahwa teori diabolisme yang didorong oleh kaum elite terlalu abstrak dan sulit dibuktikan secara empiris.

Perburuan penyihir berhenti bukan karena orang tiba-tiba berhenti percaya pada setan, melainkan karena sistem hukum mulai memakan dirinya sendiri. 

Ketika tuduhan mulai menyerang orang-orang kaya, bangsawan, dan bahkan anggota keluarga hakim (seperti yang terjadi di Bamberg dan Würzburg), para elite mulai menyadari bahwa sistem penyiksaan tidak menghasilkan kebenaran, melainkan hanya menghasilkan daftar nama siapa pun yang ingin disingkirkan oleh si terpidana agar siksaannya berhenti.

Praktik ini berakhir ketika rasionalisme abad pencerahan mulai menuntut bukti fisik yang nyata di pengadilan. Keajaiban dan setan tidak lagi memiliki tempat di meja hijau. 

Pengadilan mulai menolak bukti gaib tak terlihat (klaim bahwa seseorang melihat roh terdakwa melakukan kejahatan). Tanpa bukti fisik atau pengakuan tanpa penyiksaan, kasus-kasus ini mulai rontok di pengadilan.

Di Inggris (1684), Alice Molland adalah orang terakhir yang dieksekusi. Di Skotlandia (1727), eksekusi terhadap Janet Horne adalah kasus terakhir yang diketahui secara resmi. Sementara di Swis (1782), Anna Göldi, yang dipenggal di Glarus, secara luas disebut sebagai korban terakhir di Eropa.
 
 Perburuan terhadap para penyihir berakhir karena rasa malu yang muncul secara kolektif. Para hakim mulai menyadari bahwa banyak orang tak bersalah telah tewas. Karenanya, pada abad ke-18, hukum sihir mulai dicabut atau diubah, yang secara resmi mengakhiri era di mana sihir dianggap sebagai realitas hukum.

Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara Eropa mulai menebus kesalahan masa lalu. Di Swis (2008), Anna Göldi secara resmi direhabilitasi oleh parlemen sebagai bentuk pengakuan atas kesalahan hukum. Pemerintah Skotlandia (2022) secara resmi meminta maaf kepada ribuan orang, mayoritas perempuan, yang dieksekusi di bawah Witchcraft Act abad ke-16.

Perburuan terhadap penyihir mengubah masyarakat Eropa. Karena wanita penyembuh penyakit mendapat nama buruk, pengobatan mulai diambil alih oleh pria berpendidikan universitas. Ini membuat wanita dilarang bekerja di dunia medis selama berabad-abad.

Tidak cuma itu, atmosfer saling curiga di desa-desa membuat orang menjadi lebih tertutup. Budaya komunal abad pertengahan perlahan berubah menjadi masyarakat yang individualistis dan berhati-hati.rmol news logo article

Buni Yani
Peneliti media, budaya, dan politik Asia Tenggara

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA