Kini, mari kita menelisik sejarah perkembangan hak asasi manusia serta usaha emansipasi wanita yang selalu dinisbatkan kepada benua Eropa dan Amerika. Bila kita mau memperhatikan secara seksama bagaimana hak asasi manusia dan emansipasi wanita berkembang di Barat, maka kita akan menemukan ternyata kedua hal ini belum lama dimulai.
Kali ini kita akan mempelajari secara sekilas bagaimana tradisi jual beli istri di Eropa yang berkembang di kalangan masyarakat bawah merupakan fakta sejarah yang tidak akan pernah bisa dihapus sampai kapan pun. Catatan yang menurut semangat zaman kita sekarang ini dianggap sebagai simbol keterbelakangan dan ketidakberadaban.
Dalam sejarah Eropa, menjual istri yang merupakan tradisi rakyat Inggris, berfungsi sebagai alternatif kelas bawah dalam bercerai. Meski tidak pernah diakui secara hukum, praktik ini diterima secara luas oleh masyarakat dari akhir abad ke-17 hingga awal abad ke-20 sebagai cara untuk mengakhiri pernikahan yang tidak bahagia.
Hingga pertengahan abad ke-19, perceraian sah di Inggris harus mematuhi peraturan yang biayanya sangat mahal bagi kelas pekerja. Penjualan istri berfungsi sebagai pernyataan perpisahan kepada khalayak ramai. Suami akan menuntun istrinya ke pasar dengan tali atau kekang (halter). Sang istri akan dilelang kepada penawar tertinggi, yang acap kali sudah diatur siapa pemenangnya.
Meskipun tampak merendahkan, sejarawan mencatat bahwa praktik ini dilakukan atas dasar suka sama suka. Para istri setuju untuk dijual guna melarikan diri dari pernikahan yang penuh kekerasan atau buntu. Dalam beberapa kasus, pihak perempuan menyediakan uang untuk pembelian mereka.
Harga jual berkisar dari beberapa shilling hingga segelas bir, atau bahkan sekadar ditukar dengan hewan seperti keledai. Harga tersebut bersifat simbolis saja, bukan nilai komersial yang sebenarnya.
Penjualan istri di Eropa, khususnya di Inggris, mencapai puncaknya antara tahun 1750 sampai 1850. Meskipun tampak tak beradab, praktik ini berfungsi sebagai perceraian bagi mereka yang tidak mampu membayar biaya prosedur hukum yang sangat mahal.
Adat ini mengandalkan pengakuan publik agar dianggap mengikat. Dengan menjual istri di pasar atau kedai minum, sang suami memberi tanda kepada masyarakat bahwa ia melepaskan semua tanggung jawab hukum dan finansial atas istrinya.
Istri dituntun dengan tali atau sabuk yang biasanya digunakan untuk ternak yang diikatkan di leher, pinggang, atau lengan. Ini bukan untuk pengendalian fisik, melainkan persyaratan simbolis dari ritual tersebut. Yang terpenting, sang istri harus memberikan persetujuan atas penjualan tersebut. Jika ia tidak menyukai penawar, ia bisa, menurut tradisi rakyat, menolak transaksi yang terjadi.
Sering digambarkan, suami asli, sang istri, dan pembeli baru berbagi segelas bir untuk merayakan berhasilnya penjualan segera setelah transaksi selesai. Selain dengan uang, istri terkadang ditukar dengan barang-barang aneh yang mencerminkan rendahnya penilaian suami atau sifat simbolis dari perpisahan tersebut.
Pada tahun 1829, seorang pria di Bristol menukar istrinya dengan seekor keledai. Dalam kasus lain, seorang istri ditukar dengan umbi-umbian. Penjualan istri di Carlisle menghasilkan uang sebesar 1 poundsterling dan seekor anjing Newfoundland.
Selama berabad-abad hakim dan penegak hukum lainnya menutup mata atau bahkan mendorong praktik ini dilakukan. Karena ini merupakan langkah penghematan biaya untuk mencegah istri dan anak yang ditelantarkan menjadi beban finansial bagi paroki lokal.
Novel tahun 1886 berjudul
The Mayor of Casterbridge karya Thomas Hardy merupakan catatan fiksi paling terkenal mengenai praktik ini.
Cerita dibuka dengan Michael Henchard, seorang buruh miskin, yang menjual istrinya, Susan, dan bayi perempuannya kepada seorang pelaut seharga lima guinea saat sedang mabuk di sebuah pekan raya desa. Meskipun kritikus meragukan peristiwa tersebut benar-benar terjadi, Hardy mendasarkan ceritanya pada berita surat kabar.
Hardy menggunakan penjualan tersebut untuk menggambarkan lemahnya posisi perempuan secara hukum di bawah sistem
Coverture. Menariknya, Susan yang dalam novel bertindak sebagai protagonis, dan digambarkan memiliki sedikit kendali atas dirinya, menyetujui penjualan dirinya agar bisa melarikan diri dari suaminya.
Dalam bukunya berjudul
Customs in Common (1991), sejarawan EP Thompson memberikan analisis mendalam mengenai penjualan istri sebagai bagian dari "budaya plebeian" atau budaya rakyat kelas bawah di Inggris.
Thompson berpendapat bahwa penjualan istri bukanlah tindakan perdagangan manusia yang brutal, melainkan bentuk perceraian tidak resmi yang sangat teratur bagi masyarakat miskin yang tidak mampu membayar biaya perceraian yang sangat mahal.
Thompson menekankan bahwa agar penjualan dianggap sah di mata komunitas, ritual tertentu harus dipenuhi, terutama penggunaan tali kekang (halter) dan dilakukan di tempat umum (seperti pasar atau kedai) dengan saksi yang banyak.
Salah satu temuan Thompson yang paling penting adalah bahwa dalam sebagian besar kasus yang ia teliti (lebih dari 200 kasus antara 1780-1880), sang istri setuju atau bahkan menginginkan penjualan tersebut. Ia mencatat bahwa istri memiliki hak veto jika ia tidak menyukai pembelinya.
Ia memasukkan praktik ini ke dalam konsep moral economy, di mana masyarakat kelas bawah menciptakan aturan mereka sendiri yang bertentangan dengan hukum formal negara tetapi dianggap adil oleh masyarakat.
Penjualan tersebut secara simbolis mengalihkan tanggung jawab finansial dan hukum suami atas istrinya kepada pembeli baru, yang seringkali adalah kekasih sang istri yang sudah diatur sebelumnya.
Thompson menentang pendapat para penulis kelas menengah abad ke-19 yang menggambarkan penjualan istri sebagai bukti kebiadaban kelas pekerja. Ia berpendapat bahwa praktik ini menunjukkan adanya keteraturan sosial di luar hukum negara.
Bagi komunitas plebeian, pasar umum adalah "pengadilan" mereka. Dengan membawa masalah domestik ke pasar, mereka memberikan legitimasi sosial pada perceraian.
Thompson menjelaskan bahwa jika penjualan dianggap tidak adil atau kasar, komunitas melakukan "rough music" (musik kasar). Warga akan berkumpul di depan rumah sang suami, memukul panci dan wajan, serta meneriakkan ejekan untuk mempermalukannya karena memperlakukan istrinya dengan buruk. Ini adalah bentuk kontrol sosial komunitas untuk memastikan ritual dilakukan dengan benar dan adil.
Penjualan istri di Eropa berakar pada hukum yang menetapkan bahwa perempuan merupakan hak milik suami.
Di Jerman, hukum memandang istri sebagai hak milik yang dapat diperjualbelikan. Suami dapat secara sah menjual istri mereka sebagai upaya terakhir untuk membayar utang atau sebagai hukuman atas perzinaan. Pedesaan Prancis barat memiliki catatan penjualan istri yang tersebar, bahkan ketika pengamat Prancis pada masa itu sering mengkritik orang Inggris yang "biadab" karena praktik yang sama.
Di Inggris, penjualan istri didasarkan pada prinsip
Coverture yang menetapkan bahwa wanita yang sudah menikah tidak memiliki hak atas dirinya. Seorang suami secara hukum bertanggung jawab atas utang istrinya. Menjualnya merupakan upaya untuk secara publik memindahkan tanggung jawab keuangan kepada pembeli baru.
Banyak hakim di pedesaan tidak bisa berbuat apa-apa. Meskipun secara teknis penjualan istri merupakan pelanggaran hukum, mereka jarang menuntut pelaku karena khawatir akan memicu kerusuhan massa yang mendukung tradisi tersebut. Dalam beberapa catatan, polisi bahkan membantu mengamankan lokasi pasar agar ritual berjalan lancar.
Thompson dan sejarawan lainnya mencatat beberapa kasus yang menunjukkan betapa normalnya praktik ini di masa lalu.
Di Carlisle, Joseph Thompson menjual istrinya setelah tiga tahun menikah. Ia menaruh halter di leher istrinya dan memujinya di depan kerumunan pasar betapa baiknya dia di rumah, namun ia menyatakan mereka tidak cocok. Ia menjualnya seharga 20 shilling dan seekor anjing Newfoundland. Menariknya, pembeli tersebut adalah kekasih sang istri, dan ketiganya dilaporkan pergi minum bir bersama setelah transaksi.
EP Thompson menyoroti bahwa bagi keluarga miskin, istri adalah unit ekonomi yang vital. Jika seorang istri pergi begitu saja, suami lama tetap bertanggung jawab atas utangnya di bawah hukum Coverture. Dengan melakukan penjualan, suami lama memberikan pemberitahuan secara terbuka bahwa ia tidak lagi bertanggung jawab atas tagihan kepada istrinya. Ini adalah bentuk perlindungan bagi pria kelas pekerja saat itu.
Thompson mencatat bahwa tradisi ini menghilang bukan hanya karena adanya hukum baru, tetapi karena perubahan sensibilitas publik. Meningkatnya literasi dan pengaruh nilai-nilai kelas menengah membuat ritual pasar ini tampak memalukan bagi generasi kelas pekerja yang lebih baru. Munculnya surat kabar lokal yang sering melaporkan kejadian ini dengan nada mencemooh membuat pelaku penjualan menjadi target ejekan masyarakat.
Di akhir abad ke-19, ketika kelas menengah mulai mendominasi opini publik, penjualan istri beralih dari ritual serius menjadi bahan olok-olok di jalanan dan pertunjukan teater. Ini memaksa kelas pekerja meninggalkan tradisi ini karena rasa malu sosial (social shame), jauh sebelum hukum benar-benar bisa menghentikannya.
Meskipun kasus terakhir terjadi pada tahun 1913 di Leeds, praktik ini mulai memudar secara drastis sejak akhir 1800-an karena beberapa faktor utama. Pertama, pengesahan Matrimonial Causes Act 1857 memindahkan yurisdiksi perceraian dari pengadilan gereja ke pengadilan sipil. Meskipun masih mahal, ini adalah langkah pertama yang membuat perceraian legal menjadi mungkin bagi kelas menengah ke bawah.
Kedua,
Married Women's Property Act 1882 mengubah semua hal. Wanita mulai diakui sebagai individu hukum yang bisa memiliki properti sendiri. Hal ini menghilangkan doktrin
Coverture yang selama ini menjadi landasan logika menjual istri sebagai properti.
Ketiga, karena meluasnya edukasi masyarakat. Seiring meluasnya pendidikan, kelas pekerja mulai memandang ritual pasar sebagai sesuatu yang memalukan dan ketinggalan zaman. Tekanan sosial dari tetangga dan surat kabar lokal jauh lebih efektif menghentikan praktik ini daripada ancaman penjara.
Kini, meskipun perceraian lewat penjualan di Inggris berakhir pada 1913, bentuk "penjualan" yang berbeda masih bertahan di komunitas-komunitas Eropa seperti yang terjadi pada komunitas Romani Kalaidzhi di Bulgaria.
Di beberapa komunitas Romani, "pasar pengantin" masih terjadi. Di sini, keluarga menegosiasikan harga pengantin untuk wanita muda, meskipun ini adalah negosiasi pra-nikah dan bukan penjualan untuk perceraian.
Acara tahunan ini, yang sering diadakan di Stara Zagora pada hari Sabtu pertama Prapaskah Kristen Ortodoks, berfungsi sebagai kesempatan langka bagi pria dan wanita muda dari klan tradisional yang konservatif ini untuk bertemu. Jika pasangan saling menyukai, keluarga mereka akan menegosiasikan harga pengantin (mahar).
Harga biasanya berkisar antara €2.500 hingga €10.000, meskipun bisa lebih tinggi untuk wanita yang dianggap sangat cantik atau memiliki reputasi.
Membaca sejarah Eropa mengenai jual beli istri ini seharusnya menjadi pelajaran bagi sarjana-sarjana di Asia, Afrika, dan Amerika Latin bahwa kemajuan bangsa Eropa dan Amerika tidaklah datang secara tiba-tiba dan sekaligus. Kedatangannya melalui proses panjang mengikuti perkembangan masyarakat.
Karenanya tidak ada alasan bagi masyarakat yang disebut berasal dari “negara dunia ketiga” itu untuk merasa rendah diri. Ini adalah salah satu tujuan Oksidentalisme, yaitu untuk membongkar mitos peradaban Barat yang “maksum” dari cacat.
Buni YaniPeneliti media, budaya, dan politik Asia Tenggara
BERITA TERKAIT: