Saatnya Kritik Berubah Menjadi Tanggung Jawab Sejarah

Oleh : Leriadi, S.Sos

Rabu, 28 Januari 2026, 13:43 WIB
Saatnya Kritik Berubah Menjadi Tanggung Jawab Sejarah
Presiden RI, Prabowo Subianto. (Foto: Antara)
KEPUTUSAN Pemerintah Indonesia, di bawah Presiden Prabowo Subianto, untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian Gaza yang dibentuk dan dipimpin oleh Presiden Donald Trump telah memicu kritik luas. 

Banyak tokoh publik, akademisi, aktivis, dan pemimpin opini menyampaikan kegelisahan yang sah: Indonesia berisiko diseret ke dalam arsitektur keamanan Amerika Serikat yang selama ini lebih menekankan keamanan Israel ketimbang kemerdekaan Palestina.

Kritik itu wajar. Bahkan perlu. Namun pada titik ini, keputusan telah dibuat dan tidak realistis untuk mundur tanpa konsekuensi geopolitik yang lebih besar. Maka pertanyaan yang lebih penting dan lebih dewasa bukan lagi “mengapa keputusan ini diambil”, melainkan:

Bagaimana menyelamatkan nama baik Indonesia di hadapan dunia Islam dan komunitas internasional, tanpa kehilangan prinsip perjuangan Palestina?

Di sinilah peran para tokoh menjadi krusial. Kritik tidak boleh berhenti sebagai ekspresi kekecewaan, tetapi harus naik kelas menjadi tanggung jawab sejarah.


Memahami Risiko, Tanpa Menyerah pada Narasi

Kekhawatiran terbesar adalah persepsi bahwa Indonesia-secara simbolik-akan dianggap mengesahkan narasi keamanan Israel dan menormalisasi kekerasan yang oleh banyak pihak dinilai sebagai genosida di Gaza.

Ini bahaya nyata. Di dunia Islam, simbol sering kali lebih kuat daripada teks diplomatik. Kehadiran Indonesia dalam forum yang dipimpin Trump mudah dibaca secara simplistik sebagai “berpihak”. Jika dibiarkan tanpa narasi tandingan dan tanpa sikap korektif, Indonesia akan kehilangan modal moral yang dibangunnya puluhan tahun sebagai pendukung konsisten kemerdekaan Palestina.

Namun justru karena Indonesia sudah berada di dalam forum itu, ruang koreksi masih ada-asal dimanfaatkan secara sadar dan kolektif.


Dari Kritik ke Kontribusi: Peran Para Tokoh Bangsa

Para tokoh yang hari ini mengkritik Presiden Prabowo sejatinya memiliki peran strategis yang jauh lebih besar daripada sekadar oposisi moral.

Pertama,
Menjadi Penjaga Garis Merah Moral

Para tokoh harus secara terbuka dan konsisten menegaskan:    - Dukungan Indonesia adalah dukungan bersyarat
- Indonesia tidak mendukung keamanan Israel yang dibangun di atas pendudukan
- Indonesia menolak segala bentuk pemindahan paksa dan pemusnahan sistematis rakyat Gaza

Pernyataan publik para tokoh justru penting sebagai penyeimbang diplomasi negara, bukan sebagai pembangkangan.

Kedua,
Memberi Masukan Strategis, Bukan Sekadar Kecaman

Saat ini Presiden tidak membutuhkan kemarahan, tetapi peta jalan penyelamatan reputasi.

Tokoh-tokoh bangsa seharusnya mendorong:
-Pernyataan resmi Indonesia yang menegaskan posisi Palestina di setiap forum
- Penguatan diplomasi paralel dengan OKI, Turki, Qatar, Mesir
- Kehadiran aktif Indonesia dalam bantuan kemanusiaan yang independen dari skema keamanan AS. Ini bukan pembelaan terhadap keputusan, melainkan mitigasi kerusakan strategis.

Ketiga, Mengomunikasikan ke Dunia Islam bahwa Indonesia Tidak Diam

Yang sering luput disadari: diamnya tokoh-tokoh kritis di level internasional justru membuat narasi Indonesia dikendalikan pihak lain.

Para tokoh:
- Harus aktif berbicara di media internasional
- Menulis opini global
- Menyampaikan bahwa di Indonesia ada kontrol publik yang kuat terhadap isu Palestina

Ini penting agar dunia Islam memahami Indonesia bukan negara yang tunduk, tetapi negara yang sedang bertarung di ruang yang sulit.

Kritik Tanpa Solusi Adalah Hadiah bagi Mereka yang Ingin Menyudutkan Indonesia

Jika para tokoh hanya berhenti pada kecaman:
- Indonesia akan terlihat terbelah
- Pemerintah akan terlihat defensif
- Dunia Islam akan kehilangan kejelasan posisi Indonesia

Sebaliknya, jika kritik disertai solusi:
- Indonesia tetap dihormati
- Presiden dipagari secara moral
- Palestina tetap menjadi pusat orientasi kebijakan

Ini bukan soal membela Prabowo. Ini soal menyelamatkan wajah dan peran historis Indonesia.

Penutup: Palestina Lebih Besar dari Ego Politik


Pada akhirnya, tragedi Gaza terlalu besar untuk dijadikan arena saling menyalahkan. Indonesia telah memilih jalan yang sulit dan berbahaya. Justru karena itu, tanggung jawab kolektif para tokoh bangsa adalah memastikan jalan ini tidak mengkhianati sejarah Indonesia sendiri.

Kritik tetap perlu. Tekanan moral harus terus ada. Namun kini saatnya kritik berubah menjadi kontribusi strategis, demi satu tujuan yang lebih besar:

Indonesia tetap berdiri di sisi kemerdekaan Palestina,
bahkan ketika berada di ruang kekuasaan yang tidak bersahabat. rmol news logo article

Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik UNAS Jakarta
Wakil Sekretaris Eksekutif Balitbang DPP Partai Golkar


EDITOR: AHMAD ALFIAN

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA