Batu bara adalah darah imperium. Dari rel kereta hingga meriam angkatan laut, energi menentukan siapa yang memproduksi, siapa yang berdagang, dan siapa yang berkuasa.
Matahari tak pernah terbenam di Kekaisaran Inggris karena energinya nyaris tak pernah padam.
Namun sejarah tidak setia.
Ketika mesin pembakaran baru lahir, ketika minyak menggantikan uap, pusat kekuasaan pun bergeser. Armada Inggris yang bergantung pada batu bara kehilangan kelincahan strategisnya.
Amerika Serikat, dengan minyak dan efisiensi industri, mengambil alih abad ke-20.
Energi berganti. Dan penguasa dunia ikut berganti.
Itulah hukum sunyi sejarah.
-000-
Hari ketiga World Economic Forum 2026 di Davos, saya memilih menetap di Indonesia Pavilion. Banyak forum global saya lewatkan. Ada sesuatu yang lebih penting untuk disimak dari rumah sendiri.
Simon Mantiri, Direktur Utama Pertamina, berbicara tentang transisi energi Indonesia. Nada suaranya tenang, tetapi arah pikirannya tegas. Transisi tidak boleh tergesa. Keamanan energi harus menjadi jangkar.
Ia merujuk pada energy trilemma. Sebuah keseimbangan antara
energy security, energy affordability, dan
environmental sustainability. Kerangka ini dirumuskan World Energy Council pada 2010.
Trilema ini pahit karena mustahil diselesaikan sekaligus. Mengejar energi hijau kerap membuat biaya melonjak. Mengejar harga murah sering mengorbankan lingkungan. Mengejar kecepatan berisiko mengguncang stabilitas sosial.
Mengapa Indonesia mendahulukan
energy security? Karena tanpa listrik yang stabil, industri berhenti. Tanpa BBM yang tersedia, logistik lumpuh. Tanpa ketenangan energi, kegelisahan sosial mudah menyebar.
Transisi yang memicu kekacauan bukanlah kemajuan.
Ia adalah kemunduran yang menyamar sebagai kebajikan hijau.
Bagi negara kepulauan besar seperti Indonesia, kehati-hatian ini bukan sikap defensif. Ia adalah kebijaksanaan historis.
-000-
Di sela paparan, Simon menyinggung satu kata yang lama mengendap di benak saya.
Geothermal.Energi hijau yang senyap. Stabil. Hampir tak bergantung cuaca. Energi baseload yang bekerja siang malam, tanpa drama.
Indonesia adalah pemilik kapasitas
geothermal terbesar di dunia.
Di titik itu, pikiran saya melayang pada Daniel Yergin. Sejarahwan energi yang selama puluhan tahun meneliti hubungan antara energi, ekonomi, dan kekuasaan global.
Dalam karya-karya monumentalnya, Yergin menunjukkan bahwa energi dominan selalu membentuk tatanan dunia.
Batu bara melahirkan imperium industri. Minyak melahirkan hegemoni geopolitik abad ke-20. Kini, listrik bersih, teknologi rendah karbon, dan mineral strategis membentuk medan kekuasaan baru.
Karena Indonesia memiliki energi baru
Geothermal terbesar di dunia, akankah Indonesia juga tumbuh menjadi penguasa dunia, seperti Inggris (batubara, uap), Amerika Serikat (minyak)?
Namun Yergin menegaskan sesuatu yang lebih dalam.
Penguasa energi baru tidak otomatis menjadi penguasa dunia.
Energi hanya menjadi kekuasaan jika diterjemahkan menjadi sistem. Industri, teknologi, standar global, institusi, dan tata kelola.
Negara yang hanya mengekspor sumber daya mentah akan kaya sesaat, lalu rapuh.
Negara yang membangun ekosistem pendidikan, riset, manufaktur, pembiayaan, dan regulasi akan menentukan arah permainan.
Dengan logika ini, geothermal memberi Indonesia lebih dari listrik bersih. Ia memberi peluang peradaban. Fondasi bagi industrialisasi hijau, ekonomi digital rendah karbon, dan posisi tawar global yang tidak bergantung pada konflik.
Maka pertanyaannya bukan apakah Indonesia penguasa
geothermal dunia.
Melainkan apakah Indonesia mampu menerjemahkan keunggulan
geothermal menjadi bahasa kepemimpinan global.
-000-
Selesai diskusi, saya berbincang singkat dengan Simon Mantiri. Percakapan kecil, tetapi bernada besar. Tentang satu kata kunci. Arah.
Bagi Indonesia, transisi energi bukan perlombaan kecepatan. Ia adalah soal arah. Sekali salah belok, ketergantungan lama hanya berganti wajah.
Kita tidak ingin sekadar mengganti warna energi dari fosil ke hijau, tetapi tetap bergantung pada impor. Yang kita cari adalah transisi yang memperkuat kedaulatan energi.
Komitmen menuju Net Zero Emissions 2060 adalah nyata. Namun cara melangkah sama pentingnya dengan tujuan.
Transisi energi bukan saklar yang bisa dipindahkan seketika. Jika ceroboh, kita hanya mengganti ketergantungan. Dari impor BBM ke impor teknologi.
Karena itu, arah yang benar menuntut tiga hal.
Membangun kapasitas industri dalam negeri.
Mengolah keunggulan alam secara bertanggung jawab di rumah sendiri.
Menjaga keamanan energi sepanjang proses.
-000-
Di sinilah Davos menjadi cermin. Pertemuan modal, teknologi, dan narasi global yang kerap mengabaikan suara Selatan. Indonesia harus hadir bukan hanya membawa data, tetapi membawa tafsir sendiri atas masa depan energi.
Geothermal memberi Indonesia sesuatu yang jarang dimiliki bangsa mana pun. Energi hijau yang stabil, senyap, dan berumur panjang. Ia bekerja dalam diam, dari perut bumi, menopang kehidupan modern tanpa menuntut sorotan.
Namun sejarah tidak pernah memberi mahkota cuma-cuma. Dominasi
geothermal tidak otomatis menjelma dominasi peradaban. Ia harus diolah menjadi kekuatan sistemik.
Geothermal dapat menjadi tulang punggung industrialisasi hijau. Ia dapat berkembang sebagai pusat riset dan teknologi, sekaligus sumber listrik bagi ekonomi digital.
Semua itu hanya mungkin jika dikelola dengan tata kelola tertinggi. Adil bagi lingkungan dan masyarakat.
Di titik itu, geothermal berubah dari sekadar energi menjadi makna. Dari sumber daya menjadi arah. Dari potensi menjadi kekuatan.
Di situlah Indonesia tidak hanya ikut dalam transisi energi, tetapi ikut menentukan arah dunia yang sedang berubah.
Bukan sebagai penonton.
Bukan sebagai pemasok murah.
Melainkan sebagai bangsa yang memahami satu pelajaran tua sejarah.
Siapa yang menguasai energi masa depan, dan mengelolanya dengan bijaksana, akan ikut membentuk peradaban manusia.

Davos, Swiss, 22 Januari 2026
REFERENSI
1. The Quest — Daniel Yergin, Penguin Press, 2011.
2. The New Map — Daniel Yergin, Penguin Press, 2020.-000-
Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World
BERITA TERKAIT: