Kepala Bidang Sosial dan Politik BEM UI, Muhammad Hafizh Hernanda mengungkapkan, intimidasi pertama yang dialami massa aksi berupa sabotase Moda transportasi armada bus Kopaja yang rencananya akan membawa rombongan.
"Dari awal kami ingin aksi. Dan sebelum aksi, bayangkan, Kopaja kami itu dikooptasi oleh aparat," ujar Hafizh.
Tak berhenti di situ, Hafizh membeberkan adanya dugaan intervensi serta sabotase terhadap penyediaan mobil komando (mokom) pengangkut pengeras suara (
sound system). Dari enam penyedia jasa mobil komando yang dihubungi, seluruhnya mendadak membatalkan pesanan secara sepihak.
"Kami sudah mengontak enam mokom, yang ujung-ujungnya mereka semua tidak bisa dengan alasan-alasan tertentu. Akhirnya salah satu
driver curhat bahwa mereka diancam dan tidak dibolehkan oleh pihak aparat maupun pemerintahan," ungkap Hafizh.
Ia mengaku maklum dan tidak menyalahkan para sopir armada yang enggan mengambil risiko pekerjaan mereka.
"Saya sendiri tidak menyalahkan
driver tersebut, karena mereka memang berada di posisi tidak berdaya," sambungnya.
Akibat hambatan tersebut, massa BEM UI terpaksa beralih menyewa angkutan kota (angkot) untuk menuju titik aksi.
Sementara untuk menggantikan peran mobil komando utama, mereka terpaksa memodifikasi mobil pribadi tua yang dipasangi peralatan pengeras suara rakitan seadanya.
"Bayangkan, untuk mobil komando saja kita dipersulit. Mobil komando yang kami bawa hari ini adalah hasil modifikasi dan buatan kami sendiri," tegas Hafizh.
BERITA TERKAIT: