Kunjungi Museum Multatuli

Tokoh NU Kupas Warisan Bung Karno dan Islam Kebangsaan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/faisal-aristama-1'>FAISAL ARISTAMA</a>
LAPORAN: FAISAL ARISTAMA
  • Kamis, 18 Juni 2026, 22:11 WIB
Tokoh NU Kupas Warisan Bung Karno dan Islam Kebangsaan
Diskusi Pemikiran Bung Karno bertema "Bung Karno, NU dan Islam Kebangsaan" yang digelar melalui program Aspirasi Bonnie Triyana di Museum Multatuli, Rangkasbitung, Banten, Kamis, 18 Juni 2026. (Foto: Istimewa)
rmol news logo Gagasan Islam kebangsaan yang diwariskan Presiden pertama RI Soekarno menjadi benang merah dalam Diskusi Pemikiran Bung Karno bertema "Bung Karno, NU dan Islam Kebangsaan" yang digelar melalui program Aspirasi Bonnie Triyana di Museum Multatuli, Rangkasbitung, Banten, Kamis, 18 Juni 2026.

Diskusi menghadirkan mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, putri Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid, Inayah Wahid, Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR IPSH) BRIN Muhammad Najib Azca, serta Ketua PBNU Savic Ali.

Lukman menilai kedekatan Bung Karno dengan NU bukan karena kesamaan latar belakang organisasi. Menurutnya, Bung Karno yang sejak muda dikenal dekat dengan Muhammadiyah justru dipertemukan dengan NU melalui pemahaman yang sama tentang Islam kebangsaan.

"Yang mempertemukan keduanya, Bung Karno dan NU, adalah paham Islam kebangsaan sebagaimana tema diskusi kita hari ini. Pemahaman dan pengamalan Islam kebangsaan itulah yang menjadi daya rekat di antara keduanya," kata Lukman.

Ia menjelaskan, Bung Karno sejak muda telah banyak menyerap pemikiran Islam dari lingkungan HOS Tjokroaminoto dan sejumlah pembaru Islam. Dari proses itu lahir pandangan mengenai hubungan agama dan negara yang saling menguatkan.

"Negara membutuhkan agama karena negara bisa bertindak berlebihan, melewati batas, dan nilai-nilai agama dapat menjadi kontrol. Sebaliknya, agamawan juga bisa menjadi ekstrem dalam memahami ajaran agama, sehingga negara memiliki peran melakukan pengawasan agar tetap berada pada jalan yang seimbang," ujarnya.

Sementara itu, Inayah Wahid mengulas hubungan Bung Karno dan NU sejak masa sebelum kemerdekaan. Ia menilai para tokoh Islam kala itu mengedepankan kepentingan bangsa di atas kepentingan golongan.

"Ada sesuatu yang jauh lebih besar. Esensi agama tetap keluar meskipun tidak tertulis secara formal dalam bentuk tertentu. Yang terpenting adalah adanya rasa ikatan bersama," ujar Inayah.

Menurutnya, nilai itu tetap relevan bagi generasi muda saat ini, terutama dalam menjaga persatuan dan memiliki keberanian mengakui kesalahan.

"Kalau ada sesuatu yang tidak bekerja, kita harus berbesar hati untuk menerima bahwa itu perlu diperbaiki. Hari ini mungkin lebih sulit menemukan pemimpin yang berani mengatakan, 'Oh ya, mungkin saya salah, saya minta maaf'," ungkapnya.

Muhammad Najib Azca berpandangan hubungan Bung Karno dan NU merupakan proses sintesis antara nasionalisme dan tradisi Islam Indonesia. Salah satu tonggaknya adalah dukungan ulama NU terhadap Republik Indonesia melalui Resolusi Jihad yang diprakarsai Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari.

"Tanpa legitimasi yang kuat dari para ulama, tidak mudah bagi negara baru Indonesia mempertahankan kemerdekaannya. Resolusi Jihad menjadi salah satu bagian penting yang menjaga Indonesia tetap berdiri hingga hari ini," tutur Najib.

Di kesempatan yang sama, Savic Ali menegaskan Bung Karno dan NU memang lahir dari tradisi yang berbeda, tetapi dipersatukan oleh komitmen terhadap Indonesia.

"NU dan Bung Karno berasal dari tradisi yang berbeda. Bung Karno mungkin lebih kuat dari sisi nasionalisme, sementara NU memiliki basis keislaman yang kuat. Namun, keduanya bertemu dalam komitmen yang sama terhadap kebangsaan Indonesia," pungkas Savic.

Diskusi tersebut merupakan bagian dari rangkaian Bulan Bung Karno 2026. Para pembicara sepakat bahwa pemahaman atas sejarah hubungan nasionalisme dan Islam penting diwariskan kepada generasi muda sebagai fondasi menjaga Indonesia yang majemuk, inklusif, dan tetap bersatu.rmol news logo article


  • TAGS

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA