Airlangga Hartarto: Tidak Seperti Negara Lain, Kenaikan BBM di Indonesia Ditransmisikan Melalui Subsidi

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/raiza-andini-1'>RAIZA ANDINI</a>
LAPORAN: RAIZA ANDINI
  • Selasa, 26 April 2022, 22:18 WIB
Airlangga Hartarto: Tidak Seperti Negara Lain, Kenaikan BBM di Indonesia Ditransmisikan Melalui Subsidi
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat memberikan kuliah umum di Universitas Trisakti, Jakarta/RMOL
rmol news logo Setelah badai Covid-19 terjadi selama dua tahun terakhir, tantangan dunia saat ini dihadapi dengan geopolitik dalam perang Rusia-Ukraina yang dampaknya terhadap Indonesia cukup besar dari segi krisis energi, pangan, dan hutan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, krisis yang dialami dunia saat ini terutama terkait energi, termasuk batubara menghantam Indonesia cukup berat lantaran kenaikan harga hingga 400 dolar AS per ton, meski saat ini sudah turun.

"Demikian pula agar komoditas lain terkait emas, termasuk kelapa sawit yang sempat Rp 1.700 turun Rp 1.500 dan naik lagi di Rp 1.600 dan ini juga termasuk di yang lain termasuk di vegetable oil," kata Airlangga.

"Sehingga secara keseluruhan di berbagai negara lain seluruh harga ditranskisikan di masyarakat,” sambungnya saat memberikan kuliah umum di Universitas Trisakti, Jakarta, Senin (26/4).

Kenaikan harga BBM dunia, kata Airlangga, saat ini telah ditransmisikan di masyarakat. Sebaliknya, di Indonesia justru ditransmisikan kepada pemerintah lewat subsidi.

“Kenaikan BBM di negara lain ditransmisikan di masyarakat, namun tidak untuk di Indonesia. Sehingga, Indonesia tentu akan menimbulkan beban kepada anggaran di mana kenaikan harga tersebut tentu diobsorbsi sebagian oleh masyarakat dalam bentuk subsidi,” terangnya.

Menurutnya, Indonesia masih beruntung, meski pemerintah mengeluarkan subsidi yang begitu besar kepada masyarakat, dalam kurun waktu 5 semester, pertumbuhan ekonomi sudah masuk kembali ke jalur yang lebih positif dengan cepat daripada negara-negara lain yang mengalami krisis.

“Nah di Indonesia mengambil kebijakan yang berbeda dengan negara lain. Indonesia adalah salah satu negara yang mengambil kebijakan gas dan rem yaitu menyeimbangkan antara kehidupan dan kehidupan jadi menyelematakan nyawa manusia dan juga menyelamatkan pekerjaan,” jelasnya.

Dengan adanya kebijakan gas dan rem yang diberlakuakn pemerintah Indonesia, Ketua Umum Partai Golkar ini mengatakan, perekonomian di Indonesia masih bisa tumbuh hingga level 3,7 persen, dan diharapkan dalam semester satu tahun ini naik menjadi 5 persen, dan di semester dua menjadi 7 persen.

“Sehingga baselinenya itu menjadi lebih tinggi. Namun, kalau kita lihat dari aktivitas kemacetan sudah luar biasa jadi alhamdulillah kita sudah bisa mudik dan jumlah orang yang  mudik di Indonesia diperkirakan mencapai 80 juta dan khusus di Jabodetabek 14 juta,” katanya.

Dengan adanya libur lebaran dan memperbolehkan mudik, Airlangga berharap perekonomian semakin bergeliat di sejumlah kota besar di Indonesia.

"Jadi tentu ini merupakan suatu kegiatan yang luar biasa oleh karena itu bapak presiden meminta libur massal sehingga memberi waktu untuk 14 juta ini bergerak ke luar Jawa dan juga berkesempatan untuk melakukan spending. Sehingga tentu akan mendorong kegiatan perekonomian,” pungkasnya. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA