Sentimentil, Gus Yahya Kenang Perjuangan Para Pendiri NU Meski Tanpa Kemewahan Posisi Politik

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/raiza-andini-1'>RAIZA ANDINI</a>
LAPORAN: RAIZA ANDINI
  • Kamis, 17 Februari 2022, 17:54 WIB
Sentimentil, Gus Yahya Kenang Perjuangan Para Pendiri NU Meski Tanpa Kemewahan Posisi Politik
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf/Repro
rmol news logo Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf tak bisa menahan air matanya saat menceritakan perjuangan para kiai dan pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

Disampaikan dalam acara Napak Tilas 99 Tahun Gedung Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama (HBNO) secara daring, KH Yahya menyebut para pendiri dan kiai NU dahulu tidak pernah memamerkan kegelimpangan harta maupun jabatan politik di hadapan masyarakat.

“Para masyayikh, muazizun tidak punya kemewahan posisi politik seperti yang kita nikmati hari ini. Para muazizun tidak punya kemewahan modal ekonomi yang kita nikmati hari ini,” kata Gus Yahya, Kamis (17/2).

Dia mengatakan, sebelum adanya KH Ma’ruf Amin yang saat ini menjadi Wakil Presiden RI, ada KH Muhammad Hasyim Asy’ari yang mendirikan NU, serta kiai-kiai lain yang tidak menampakkan kekayaan.

“Para muaziz tidak mengandalkan hartanya selain kebersihan niat kecintaan kepada agama, kesetiaan kepada sanad ilmu yang beliau-beliau pikul. Terbukti, modal itu mengantarkan kita semua sampai kepada capaian-capaian besar hingga saat ini 99 tahun,”ucapnya.

Gus Yahya menyinggung, sebesar apa pun kekayaan yang dimiliki ulama saat ini, tidak akan ada apa-apanya tanpa perjuangan para pendahulu yang dengan giat menyebarkan ilmu kepada para pengikutnya.

“Kecanggihan Saifullah Yusuf tiada artinya, kekayaan Haji Mardani tidak ada maknanya, kedudukan tinggi dalam politik yang ditempati oleh Kiai Ma'ruf Amin dan lain-lain tidak akan ada gunanya," lanjutnya.

Menurutnya, keikhklasan, niat, dan kecintaan terhadap agama, kecintaan terhadap sanad ilmu tidak akan berarti jika benih yang dulu ditanam para ulama tidak dipelihara dengan baik.

Gus Yahya sendiri mengaku sentimentil tiap kali membicarakan perjuangan para ulama terdahulu. Apalagi jika saat ini perjuangan tersebut tidak diamalkan oleh para penerusnya.

"Saya terlalu sentimentil, tidak bisa bicara lebih panjang lagi. Saya hanya berdoa semoga kehadiran kita di tempat ini bisa mengilhami, merasuki kita dan terus mewarnai hikmah kita di dalam Nahdlatul Ulama," tutupnya menahan air mata. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA