Omicron Terus Meningkat, Christina Aryani: Belum Saatnya Mengurangi Kewaspadaan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/faisal-aristama-1'>FAISAL ARISTAMA</a>
LAPORAN: FAISAL ARISTAMA
  • Rabu, 12 Januari 2022, 13:23 WIB
Omicron Terus Meningkat, Christina Aryani: Belum Saatnya Mengurangi Kewaspadaan
Anggota DPR RI Dapil DKI Jakarta II Christina Aryani/Net
rmol news logo Seiring perkembangan varian Omicron yang terus meningkat, khususnya di DKI Jakarta, masyarakat diharapkan untuk kembali meningkatkan kewaspadaan.

Pasalnya, data yang dirilis WHO menyebutkan Omicron menyebar dengan laju yang belum pernah dilihat pada varian lain sebelumnya. Khusus Indonesia, mayoritas penambahan kasus ada di DKI Jakarta.

"Belum saatnya kita mengurangi kewaspadaan, tetap waspada utamanya dengan kembali menggalakkan penggunaan masker dan disiplin prokes lainnya," kata anggota DPR RI Dapil DKI Jakarta II Christina Aryani kepada wartawan, Rabu (12/1).

Ketua DPP Golkar Bidang Kesehatan dan Lingkungan Hidup ini menambahkan bahwa kewaspadaan saat ini sangat penting. Karena laporan penelitian beberapa universitas di luar negeri menemukan bahwa Omicron menginfeksi bronkus dan bereplikasi 70 kali lebih cepat dibanding Delta dan SARS-Co-V2 dan sanggup menghindari antibodi yang terbentuk dari vaksinasi atau infeksi sebelumnya.

"Jangan sampai ada asumsi bahwa karena sudah vaksin maka otomatis aman. Ini tidak boleh ada. Meski sudah divaksin disiplin Prokes harus tetap kita jaga," tegas Anggota Komisi I DPR RI fraksi Golkar ini.

Kasus pertama Omicron dilaporkan pada 24 November 2021 dari Afrika Selatan. Sebulan kemudian Omicron telah menyebar di 108 negara dengan 151.368 kasus dan 26 kematian.

Di Indonesia sendiri, kasus Omicron diumumkan pertama kali pada Kamis, 16 Desember dan pada Jumat 7 Januari lalu sudah terdapat setidaknya 318 kasus Omicron di Indonesia.

Bukan hanya itu, juga tercatat trend kenaikan kasus harian sejak Januari 2022 yang jumlahnya lebih dari dua kali lipat penambahan kasus harian pada Desember 2021, sehingga ada proyeksi epidemiolog puncak gelombang ketiga kasus Covid-19 kemungkinan terjadi Februari sampai Maret 2022. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA