Pada tahun 2017 lalu, Presiden Korea Selatan, Moon Jaein mengunjungi Presiden Jokowi di Jakarta. Lalu pada tahun 2019, Presiden Jokowi membalas dengan melakukan kunjungan kerja ke Busan, Korea Selatan.
"Ini adalah komitmen untuk meningkatkan hubungan Indonesia dan Korea Selatan pada hubungan yang strategis,†kata Menteri BUMN, Erick Thohir saat menjadi pembicara kunci dalam webinar internasional bertema “
Indonesia-Korea: Enhancing Special Strategic Partnership and Co-prosperity†yang diselenggarakan Korean Center Kantor Berita Politik RMOL di Roemah Djan, Jalan Talang No. 3, Jakarta Pusat, Selasa (9/11).
Dia menambahkan, ada beberapa kerja sama yang dilakukan Indonesia dan Korea untuk meningkatkan hubungan bilateralnya, yakni dalam bidang perdagangan, pertukaran pelajar, dan
foreign direct investment.
“Seperti salah satunya PT Krakatau Steel yang berkolaborasi dengan Korea. Ada juga kolaborasi dirgantara Indonesia dalam sektor
aircraft, dan ke depan kita punya komitmen dalam
electricity vehicle,†ucap Erick yang juga Ketua Umum Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) ini.
Erick Thohir mengatakan, Indonesia hari ini memiliki kemampuan ekonomi yang cukup berkembang baik, meski dihantam pandemi Covid-19 dalam kurun waktu setahun lebih.
"Kita bisa melihat ekonomi Indonesia berkembang baik. Dengan potensi bisnis yang baik, sebagai negara yang menyandang ekonomi besar di Asia Tenggara, kita mendukung tiga faktor sebagai kunci dalam populasi yang berkembang (SDA),
thriving ekonomi, dan
sizeable industry,†katanya.
Indonesia, kata Erick, diketahui sebagai negara keempat yang memiliki populasi terbesar di dunia, dan menjadikan Indonesia negara terbesar dalam pasar industri dan ekonomi.
“Indonesia memiliki potensi indsutri yang kuat sebesar 553 miliar dolar AS dalam sektor
trade dan
service reveneu dalam bidang manufaktur Indonesia memiliki 218 miliar dolar AS dan perkembangan digital yang sangat kuat 73 persen digital,†tandasnya.
Hadir memberi sambutan dalam acara ini Dutabesar Korea Selatan untuk Indonesia, Park Taesung, Ketua GKSB DPR RI-Korea Selatan, Edward Tannur dan Ketua Komisi I DPR RI, Meutya Hafid.
Sementara diskusi turut dihadiri oleh Shin Yoonsung dari Korea Institute for Industrial Economics & Trade dan CEO RMOL Network yang juga Wakil Sekretaris Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Teguh Santosa.
BERITA TERKAIT: