Salah satu bentuk penguatan tersebut adalah dengan menyelenggarakan Simposium Pembelajaran Regional tentang Covid-19 dan Dampaknya terhadap Penanganan dan Ketangguhan Bencana secara virtual, pada Kamis (28/10).
Simposium ini bertujuan memberikan ruang untuk merefleksikan dampak Covid-19 pada kemampuan regional dalam menangani bencana, dan berbagi pembelajaran tentang bagaimana pihak-pihak yang bergerak di bidang kemanusiaan di tingkat lokal telah beradaptasi dengan cepat di tengah berbagai tantangan.
Menurut Deputy Head of Mission Kedutaan Australia di Jakarta, Stephen Scott, kawasan Indo-Pasifik memiliki pengalaman yang sangat kaya di bidang penanganan bencana dan kedaruratan kesehatan masyarakat, seperti yang telah ditunjukkan selama pandemi Covid-19.
"Oleh karena itu, sangat penting untuk meningkatkan pertukaran pengetahuan antar negara dan melembagakan praktik-praktik baik dalam rangka memperkuat upaya pengelolaan risiko bencana dan mengatasi tantangan kita bersama di kawasan ini," kata Scott dalam keterangannya.
Simposium ini merupakan kelanjutan dari serangkaian webinar yang diselenggarakan Program SIAP SIAGA pada Juni 2021 untuk mendokumentasikan pembelajaran tentang topik yang sama.
Ada tiga topik tematis yang berhasil diidentifikasi dari serangkaian webinar yang lalu dan kemudian dibahas secara lebih mendalam pada Simposium ini: Tata Kelola dan Kepemimpinan Lembaga, Model Kemitraan, serta Teknologi dan Komunikasi.
Sesi-sesi dalam Simposium memaparkan pentingnya berbagai faktor seperti kesiapan kerangka hukum untuk peristiwa Covid-19, pemberdayaan organisasi kemanusiaan lokal memberikan bantuan kemanusiaan, upaya memperkuat kemitraan lokal, meningkatkan partisipasi anak muda dan perempuan dalam penanganan bencana, dan upaya mendorong penggunaan bahasa asli serta pendekatan inklusif yang juga mencakup kelompok disabilitas dalam komunikasi saat bencana.
Sementara itu, Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, Raditya Jati menekankan pentingnya 3C yaitu
commitment of leadership atau komitmen para pemimpin dalam mengubah paradigma dari tanggap darurat ke pencegahan,
collaboration atau kolaborasi antar berbagai pihak, serta
risk communications atau komunikasi risiko untuk mendukung ketangguhan yang berkelanjutan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.
Hasil-hasil Simposium ini diharapkan dapat memberi masukan berharga untuk pelaksanaan Sesi Ketujuh Platform Global untuk Pengurangan Risiko Bencana (Seventh Session of the Global Platform for Disaster Risk Reduction) yang akan diselenggarakan Indonesia pada tahun 2022.
BNPB, dikatakan Raditya, turut bangga menyaksikan keberhasilan Simposium Regional ini, yang menjadi salah satu tindak lanjut dari rekomendasi Konferensi Regional Bantuan Kemanusiaan yang diselenggarakan oleh Indonesia pada 6-7 Oktober lalu.
"Konferensi Regional telah menekankan beberapa rekomendasi penting; pertama, perlunya aktor kemanusiaan di kawasan untuk memperkuat fokus pada pengumpulan data dan tindakan berbasis bukti dalam kesiapsiagaan bencana,†katanya.
Selain itu, lanjut Raditya, pentingnya mengintensifkan pertukaran pengalaman dan praktik baik dalam agenda kemanusiaan di kawasan Asia Pasifik.
Direktur Hak Asasi Manusia dan Kemanusiaan, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Achsanul Habib menambahkan, acara simposium ini diharapkan menjadi momentum berbagai pengalaman antarnegara.
"Dialog, berbagi praktik terbaik, dan pertukaran pengalaman yang baik memainkan peran penting dalam memperkuat kapasitas kemanusiaan di kawasan," demikian disampaikan Achsanul.
BERITA TERKAIT: