Peneliti politik dan kebijakan publik Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Saidiman Ahmad menganalisis, terkereknya elektabilitas Golkar terjadi karena dua faktor, yakni eksternal dan internal.
Ada dua hal, menurut Saidiman, yang berhasil mengerek elektabilitas Partai Golkar. Faktor internal dan eksternal.
"Faktor internal, karena Golkar di bawah kepemimpinan Pak Airlangga ini kan relatif lebih solid. Tidak ada kegaduhan di internal sehingga tidak ada sentimen negatif terhadap Golkar dan kader bisa lebih fokus bekerja," kata Saidiman Ahmad, Kamis (7/10).
Faktor ini pula yang membawa Golakr meraih kemenangan di 165 daerah atau 61,1 persen pada Pilkada 2020 lalu.
Sementara faktor eksternal yang membawa Golkar meningkat adalah prestasinya sebagai partai politik koalisi pemerintahan Jokowi-Maruf.
"Golkar punya peranan yang cukup penting dalam pemerintahan Pak Jokowi, di mana menjadi motor terdepan sebagai penggerak ekonomi dan penanganan Covid-19," jelasnya.
Di kabinet, setidaknya ada dua tokoh Golkar yang berkontribusi besar, yakni Airlangga sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan Luhut Binsar Pandjaitan sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.
"Publik sangat sensitif terhadap hal-hal ekonomi dan kesehatan di tengah pandemi Covid-19 ini. Di sektor ini ada Pak Airlangga dan Pak Luhut yang bisa membuat masyarakat simpatik," terangnya.
Pada survei SMRC 15 hingga 21 September 2021, Golkar berada di urutan kedua dengan elektabilitas 11,3 persen. Posisi pertama ditempati PDI Perjuangan dengan 22,1 persen dan nomor tiga diisi PKB dengan 10 persen, dan Gerindra 9,9 persen.
Survei dilakukan dengan metode wawancara langsung atau tatap muka kepada 1.220 responden.
Margin of error survei tersebut kurang lebih 3,05 persen dengan tingkat kepercayaan 96 persen.
BERITA TERKAIT: