"Tidak ada, itu stabil setiap tahunnya. Ini adalah strategi pemerintah untuk memastikan, kita tidak bisa dipojokkan atau diatur oleh pedagang. Terutama para spekulan-spekulan yang berniat tidak baik dalam hal ini," kata Lutfi dalam konferensi pers, Kamis (18/3).
Selain itu, Lutfi menjelaskan, impor beras dilakukan dengan alasan untuk menjaga setok beras nasional dan menstabilkan harga.
Dikatakan Lutfi, angka produksi beras yang dimiliki pemerintah saat ini bersifat proyeksi. Sehingga bisa tiba-tiba berubah naik dan turun, tergantung dari cuaca di daerah penghasil beras.
Atas dasar itulah, menurut mantan Kepala BKPM itu, iron stock atau cadangan dibutuhkan, jika kondisi panen beras tak semulus yang diperkirakan.
Lutfi pun menjamin jika beras impor tersebut akan digunakan ketika ada kebutuhan mendesak. Beberapa contohnya: untuk Bansos atau operasi pasar untuk stabilisasi harga.
"Kalau pun misalnya angka ramalannya memang bagus, tapi harga naik terus, itu kan mengharuskan intervensi dari pemerintah untuk memastikan harga itu stabil," jelas Lutfi.
Lutfi juga menegaskan, rencana impor ini tidak ada niatan pemerintah sama sekali untuk menurunkan harga petani, terutama saat petani sedang panen raya.
"Tidak ada niat pemerintah untuk menurunkan harga petani terutama saat sedang panen raya. Sebagai contoh, harga gabah kering petani itu tidak diturunkan," ujarnya.
"Kalau gabah kering itu diturunkan oleh Bulog, nah itu bagian daripada penghancuran harga," tutupnya.
Pemerintah memutuskan akan melakukan impor beras sebanyak 1 juta ton. Keputusan ini menuai banyak kritik dari berbagai kalangan.
BERITA TERKAIT: