"Saya hanyalah pekerja dari anggota Polri berpangkat rendahan Sersan Dua, enam kali daftar Akabri gagal sejak 1982. Baru tahun 1987 saya mendapat kesempatan masuk Capratar (Calon Prajurit Taruna) Akabri di Magelang," kata Firli kepada
Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (17/3).
Pernyataan Firli disampaikan untuk merespon penilaian dari sementara kalangan bahwa dirinya termasuk figur yang pantas diharapkan tampil sebagai pimpinan nasional. Pandangan itu antara lain disampaikan Direktur Eksekutif Kajian Politik Nasional (KPN) Adib Miftahul.
Sementara dalam polling "24 Tokoh Harapan 2014" yang digelar
Kantor Berita Politik RMOL Firli Bahuri menempati posisi tiga besar dengan meraih dukungan sebesar 10,62 persen.
Kepada redaksi, Firli juga mengatakan dirinya hanyalah seorang anak dusun yang besar di kampung jauh dari perkotaan. Firli lahir dan melawati masa remaja di Dusun Lontar Seberang, Kecamatan Muara Jaya Kabupaten Ogan Komering Ulu (Oku), Sumatera Selatan.
Ia berasal dari keluarga tak berada, serba kekurangan dan keterbatasan. Bahkan telah ditinggal oleh ayahnya yang petani sejak umur lima tahun.
"Saya hanya memiliki semangat mendharmabaktikan tenaga dan pikiran untuk bangsa dan negara," ungkap Firli
Dirinya telah melakoni kemandiran sejak dini, mulai dari berjualan kue dan hasil kebun karet, mencuci mobil untuk membiayai sendiri sekolahnya sampai tak makan dua hari lantaran tak ada beras sudah dirasakan. Menjadi pimpinan KPK, baginya merupakan amanah dan kehendak Tuhan YME yang harus dijalankan sebaik-baiknya.
"Semua atas kuasa dan kehendak Allah SWT. Saya pun (menjadi Ketua KPK) karena kuasa dan kehendak Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa Lagi Maha Berkehendak," pungkas Firli Bahuri.
BERITA TERKAIT: