Meski begitu, nama Habib Rizieq tidak dapat dilepaskan dari Front Pembela Islam (FPI), di mana ia telah ditunjuk sebagai seorang Imam Besar.
Dalam prosesnya, peneliti senior dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof Siti Zuhro berharap, FPI dapat bermetamorfosis menjadi organisasi yang menebarkan nilai-nilai perdamaian dalam Islam.
"Kita berharap FPI itu bermetamorfosis, bukan Front Pembela Islam saja, (tapi juga) Front Peaceful Islam," kata Siti dalam
Tanya Jawab Cak Ulung bertajuk "Pulang Dari Saudi, Habib Rizieq Gabung Parpol?" pada Kamis (12/11).
"Islam yang rahmatan lil alamin, Islam yang damai, Islam yang tentu menebarkan paham-paham yang positif," tambahnya.
Sebagai sebuah organisasi yang sudah lama berdiri, Siti mengatakan, tidak aneh bagi FPI memiliki banyak pendukung. Bahkan sebagian besar di antaranya adalah kaum milenial.
Melihat hal tersebut, Siti mengatakan, FPI dapat dijadikan basis massa politik yang sangat signifikan bagi partai.
"Karena bagaimana pun juga, berbicara parpol, berbicara pemilu, berbicara dukungan suara," lanjut dia.
Dengan begitu, ia menuturkan, Indonesia harus mengakhiri era post-truth hingga politisasi identitas. Di sisi lain, massa FPI pun harus dibekali oleh pengetahuan dan nilai-nilai yang mencerahkan.
"Bagaimana mengelola milenial dengan membekali, memberikan t
ransfer of knowledge, value, mencerahkan mereka menjadi sosok-sosok yang matang, dewasa," pungkasnya.
BERITA TERKAIT: