Dian Permata: Purnomo Mundur Di Pilkada Solo Karena Ingin Takdzim Pada Kader Bos

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/jamaludin-akmal-1'>JAMALUDIN AKMAL</a>
LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL
  • Senin, 08 Juni 2020, 13:38 WIB
Dian Permata: Purnomo Mundur Di Pilkada Solo Karena Ingin Takdzim Pada Kader Bos
Achmad Purnomo dan Gibran Rakabuming Raka/Net
rmol news logo Rencana pengunduran diri bakal calon Walikota Solo, Achmad Purnomo dari perhelatan Pilkada 2020 dinilai karena adanya sosok kader bos.

Belakangan, rencana Purnomo ditolak oleh DPC PDI Perjuangan. Sebagai kader PDIP, Purnomo tetap diusung dalam Pilkada Solo dengan pasangannya, Teguh.

Kader bos yang dimaksudkan adalah Gibran Rakabuming Raka yang merupakan putra sulung Presiden Joko Widodo yang juga ingin maju menjadi bakal calon Walikota Solo.

"Mundurnya Purnomo sebagai calon kepala daerah di Pilkada Solo sebagai bentuk takdzim politik dia kepada Gibran yang juga anak presiden," ucap Peneliti Insititut Riset Indonesia (INSIS) Dian Permata kepada Kantor Berita Politik RMOL, Senin (8/6).

"Purnomo sadar dia tidak mungkin melawan Gibran. Ibaratnya semut melawan Gajah," imbuh Dian.

Bahkan kata Dian, tidak menutup kemungkinan mundurnya Purnomo merupakan bentuk strategi politik yang akan ada kompensasi yang dipertukarkan.

"Pilihan mundur adalah strategi politik Purnomo. Dia memilih mundur tidak gratisan. Bisa saja ada nilai kompensasi yang dipertukarkan. Ia menukar tiket ekonomi menjadi tiket bisnis," katanya.

"Sebagai contoh menaikkan level Purnomo sebagai calon kepala daerah PDI P untuk Jawa Tengah pada 2022. Dalam politik itu pertukaran nilai kompensasi kerap dilakukan dan sangat wajar," jelas Dian.

Namun demikian, lanjutnya, mundurnya Purnomo menjadi kode keras bagi calon yang sudah meniti karir di sebuah partai jika kasus Gibran kembali terulang.

"Bisa dibayangkan, seorang kader yang meniti karir dan berjuang dari level terbawah hingga dapat kesempatan mencicipi kue sebagai calon kepala daerah dari parpol ia berasal tetapi harus mengalah lantaran ada kandidat drop-dropan. Atau disatirekan, kader asli parpol vs kader bos," ujarnya.

Sehingga sambung Dian, dampaknya akan merusak mata rantai kaderisasi dan generasi kepemimpinan partai politik itu sendiri.

"Khawatir, kader asli akan mutung dengan situasi di atas. Akibatnya, kader asli tidak serius menggarap dan membesarkan parpol itu sendiri," pungkas Dian. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA