Sejumlah menteri bersama panglima TNI bahkan harus berkumpul untuk menyatakan sikap atas klaim
nine dashed-lines China.
Dutabesar Republik Indonesia untuk China, Djauhari Oratmangun pun akhirnya turun tangan menjelaskan duduk perkara yang terjadi di Laut Natuna Utara.
Namun demikan, Dubes Djauhari tidak menjelaskan secara gamblang. Tapi, menggunakan analogi yang sederhana agar lebih mudah dipahami.
Dia mengibaratkan seperti kehidupan masyarakat yang bertetangga. Ketika seseorang akan keluar rumah tapi ada motor tetangga yang parkir di depan garasi, maka otomatis orang tersebut akan teganggu.
“Walaupun hanya 5 cm saja kan rasanya ingin motor itu kita tendang, kita lempar, kita bakar. Tapi kan kemudian kita memiliki RT. Ada tempat untuk mengadu. Kita bisa minta bantu,†begitu kata Djauhari memberi analogi saat mengisi kuliah umum di kampus LSPR, Sudirman Park, Jakarta, Selasa (7/1).
Menurut Djauhari, jika dalam ruang lingkup terkecil ada RT dan RW, maka dalam ruang lingkup internasional, Indonesia memiliki forum-forum yang serupa untuk melakukan dialog. Artinya, daripada menghabiskan energi yang tidak ada habisnya, maka forum yang ada harus dimanfaatkan.
"Ada forum-forum untuk kita lakukan dialog seperti itu tanpa harus berantem, tanpa harus mengorbankan batas wilayah kita," ujarnya.
Lebih lanjut, Djauhari juga menjelaskan, di dalam wilayah hak berdaulat, di mana pelanggaran tersebut terjadi, Indonesia tidak boleh menjadi pemicu adanya kontak senjata. Namun jika sudah masuk ke wilayah kedaulatan, maka NKRI harga mati.
"Jadi menurut hemat saya, masalah apapun yang ada, kita
strict to our principle but we talk each other (tetap pada prinsip tapi kita melakukan pembicaraan satu sama lain),†ujarnya berpendapat.
"Sebelum ke sini kan saya ketemu mereka (pihak China) empat lima kali. Jadi
hopefully sudah tenang," pungkas Djauhari.
BERITA TERKAIT: