Ketua YLBHI Jakarta, Asfinawati
menyatakan,
buzzer justru merusak tatanan kehidupan
berdemokrasi di tanah air lantaran mengaburkan fakta.
"Beberapa
laporan, ada dari Universitas Oxford yang menunjukkan sebenarnya ada
buzzer, yaitu orang yang dibayar untuk mengungkapkan
hal tertentu dan pemerintah mengakui mereka punya
buzzer" kata Asfinawati kepada wartawan di Kawasan
Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (5/10).
YLBHI, kata Asfinawati,
menyesalkan ulah para politikus di Indonesia yang menggunakan
buzzer dengan tujuan memanipulasi opini publik
tersebut.
"Kalau kita mau mempertahankan iklim demonstrasi kita,
maka fakta harus diterima, bukan dimentahkan oleh
buzzer yang dibayar," kesalnya.
Di sisi lain,
keberadaan
buzzer ini juga dapat melemahkan pers
lantaran narasi yang diproduksi mengesampingkan kaidah jurnalistik,
bahkan hingga melanggar kode etik atau hanya sekadar propaganda belaka.
"Media itu punya aturan sendiri ada kode etik," tegasnya.
Mengingat
bahaya yang ditimbulkan, ia pun meminta kepada elite untuk menghentikan
penggunaan
buzzer lantaran dapat mengancam
demokrasi.
"Itu adalah sebuah sinyal bahwa demokrasi Indonesia
sedang dalam ancaman, sedang menurun. Kalau diteruskan, lama-lama kita
bisa tidak punya demokrasi lagi," tandasnya.
BERITA TERKAIT: