Bahkan, berdasarkan
quick count atau hitung cepat sejumlah lembaga survei, partai yang dinahkodai Airlangga Hartarto ini masih berada di posisi 2 atau 3, bersaing dengan Partai Gerindra.
“Terbukti, hasilnya Golkar tetap dipilih pemilihnya. Artinya, Golkar masih mendapat kepercayaan rakyat untuk menempatkan wakilnya di DPR, DPRD Provinsi maupun DPRD kabupaten kota," terang Direktur Eksekutif Lembaga Emrus Corner, Emrus Sihombing.
Ini juga membuktikan Golkar memiliki pemilih cukup loyal.
"Nampaknya pemilih Golkar mengakar kuat, makanya dia tetap menjadi partai besar sampai sekarang,†sebutnya.
Pakar komunikasi politik Universitas Pelita Harapan (UPH) ini mengatakan, berulang kali KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap banyak politikus yang akhirnya membuat kasus korupsi menjadi persoalan biasa didengar masyarakat.
"Adanya legislator terjerat korupsi akhirnya tidak jadi alasan lagi bagi masyarakat untuk memilih atau tidak memilih partai tertentu. Saya melihatnya seperti itu," jelasnya.
Masyarakat, lanjut Emrus, lebih melihat dari sosok atau partai yang dinilai masih menyejahterakan atau memperjuangkan nasib mereka meski ada beberapa kadernya terseret korupsi.
Bahkan, Emrus menyangsikan kasus korupsi menjerat politikus di partai besar yang notabene parpol lama itu mampu membuat masyarakat lari ke parpol-parpol baru bermunculan.
"Apakah kemudian masyarakat bermigrasi ke partai baru? Belum tentu juga. Publik sepertinya masih meragukan partai-partai baru," tutup pengajar Pascasarjana UPH itu.
Bowo Sidik merupakan tersangka kasus suap pelaksanaan kerja sama pengangkutan bidang pelayaran antara PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog) dengan PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK).
Komisi antirasuah mengamankan 400 ribu amplop untuk digunakan dalam serangan fajar pada Pemilu 2019.
BERITA TERKAIT: