Hari ini, di tengah gelombang massa itu, kelompok Gerakan Pemuda Asli Kalimantan (Gepak) yang tergabung dalam Sekretaris Bersama Pribumi menyerukan jihad melawan Amerika Serikat dan Israel.
Perwakilan dari Gepak, Rahmat Himran, menegaskan bahwa jihad dilakukan karena AS dan negara Yahudi (Israel) akan terus berupaya merongrong umat Islam.
Contoh paling konkret adalah pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang berencana memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke Yerusalem.
Pernyataan Trump tersebut ia nilai sebagai bentuk dukungan AS terhadap penjajahan Israel atas bangsa Palestina.
"Mereka (AS dan Israel) akan terus seperti itu," seru Rahmat dalam orasinya di depan Gedung Kedubes AS, Jumat (15/12).
"Semangat juang kita akan terus kita kobarkan untuk terus memperjuangkan ajaran yang sudah ada dalam Al Qur'an dan Al Hadits. Di mana kita akan menjadi barisan terdepan dalam membela agama Allah," tambah dia dengan berapi-api.
Yang mengejutkan, Rahmat Himran kemudian menyanyikan sebuah lagu yang diklaimnya sebagai lagu terakhir yang dinyanyikan oleh terpidana mati kasus Bom Bali 2002, Imam Samudera.
Berikut kutipan lagu itu selengkapnya:
Sahidlah aku, Sahid dadaku
Mataku terpejam, daku terluka
Di alam sana kita kan jumpa, di alam sana kan bahagia
Yahudi dan Amerika musuh kita selama-lamanya
Kan kita hajar, hingga kan hancur, dan kita hajar hingga kan hancur"Ini adalah lagu yang dinyanyikan oleh Imam Samudera sebelum ditembak mati," klaim Rahmat mengakhiri orasinya.
[ald]
BERITA TERKAIT: