Dia menyampaikan pada acara Kongres III Pimpinan Pusat PSNU Pagar Nusa di Padepokan Silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Kamis (5/4).
"Pagar Nusa, sebagai badan otonom Nahdlatul Ulama, merupakan mitra strategis pemerintah untuk mengawal NKRI. Selama ini, ada tiga kekuatan utama pengawal bangsa. Yakni, TNI/Polri, kelompok nasionalis dan Islam Moderat. Ketiga kelompok kekuatan ini menjadi penyangga keutuhan bangsa Indonesia," katanya.
Pagar Nusa, menurut Kapolri bisa menjadi kekuatan penting di tengah berbagai ancaman terhadap bangsa Indonesia. Kapolri Tito juga mendukung pembubaran ormas-ormas yang tidak sesuai dengan prinsip nasionalisme dan yang berusaha memecah belah bangsa Indonesia.
"Kelompok apapun yang bertujuan memecah belah bangsa, tidak diperbolehkan," tegas Tito.
Ditempat yang sama, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Said Aqil Siroj mengungkapkan betapa masalah yang dihadapi bangsa Indonesia ini harus dicari solusinya secara bersama.
Menurut Kiai Said, tantangan terhadap sistem kebangsaan kita semakin kompleks. Akan tetapi, Nahdlatul Ulama dan kiai-kiai pesantren memberi teladan untuk memperjuangkan kebaikan.
"Ketika ada masalah yang berat, para kiai selalu menjadi rujukan untuk menghadapi dengan sabar, ikhlas, serta dengan pikiran jernih. Ini pendidikan karakter yang sangat penting," terang Kiai Said.
Kiai Said juga berharap bahwa Pagar Nusa menjadi tonggak utama untuk menjaga kedamaian di negeri ini.
"Pagar Nusa ini menjadi pagar kiai, pagar pesantren, pagar Indonesia," jelas Kiai Said.
Kongres ke-III Pimpinan Pusat PSNU Pagar Nusa diselenggarakan pada 3-5 Mei 2017. Sekretaris Umum PSNU Pagar Nusa, Mohammad Nabil Haroen, berharap agar Kongres Pagar Nusa kali ini menjadi momentum konsolidasi kepemimpinan dan kader.
"Semua pendekar, kader dan pengurus Pagar Nusa untuk bersatu, bersama-sama melaksanakan dawuh Kiai untuk mengawal pesantren dan menjaga keutuhan bangsa," demikian Nabil.
[zul]
BERITA TERKAIT: