"Kerjasama dengan Finland University meliputi program Master bidang Pendidikan (Comission Master Degree Program) bagi 30 guru Sekolah Sukma Bangsa di Aceh. Program kerjasama ini menelan biaya kurang lebih 1.1 Juta Euro untuk selama 2 tahun, di mana keseluruhan pembiayaan merupakan wakaf dan tanggung jawab Bapak Surya Paloh selaku pendiri Yayasan Sukma, Jakarta," ujar Rerie melalui pesan elektronik kepada redaksi, Sabtu (8/4).
Ia menceritakan, kerjasama dengan Finland University ditandai dengan kesepakatan yang ditandatangani Ketua Yayasan Sukma, Ibu Lestari Moerdijat dengan perwakilan konsorsium 3 Universitas besar di Finlandia, yaitu Tempere University, Turku University dan Eastern Finland University pada tanggal 12 dan 13 Mei 2015, di Helsinki, Finlandia. Kemudian pada tanggal 2 Oktober 2015, sebuah terobosan telah dilakukan yaitu penandatanganan perjanjian kerjasama yang dilakukan antara Finland University dan Yayasan Sukma untuk menyediakan program Master untuk Pendidikan Guru.
Program tersebut telah berlangsung sejak Desember 2015 dan mengambil waktu selama Desember 2015 hingga April 2017. "Secara umum dua kerjasama Yayasan Sukma dengan Finland University ini merupakan tindak lanjut dari payung besar kerjasama bidang pendidikan Indonesia-Finlandia yang telah ditandatangani oleh Anies Baswedan selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dengan Krista Kiuru selaku Menteri Pendidikan dan Komunikasi Finlandia, pada bulan Maret 2015 di Jakarta," jelas Rerie.
Dibeberkannya, dalam naskah kerjasama yang ditandatangani kedua Negara, disebutkan bahwa pengembangan kinerja sistem pendidikan pada tingkat dasar dan menengah merupakan sentral isu dari kerjasam tersebut. Dalam memorandum tersebut terdapat enam sub-area yang menjadi fokus kerja sama. Pertama, pertukaran informasi dan publikasi ilmiah serta tenaga ahli di bidang pendidikan dan pengasuhan usia dini, taman kanak-kanak, dasar, menengah, pendidikan kejuruan dan teknik. Kedua, pengembangan kurikulum dan kualifikasi. Ketiga, pengkajian.
Keempat, tambah dia yakni pembelajaran dan pengajaran, termasuk pendidikan guru dan pengembangan professional. Kelima, manajemen sekolah dan kepemimpinan serta peningkatan mobilitas termasuk guru, staf administrasi dan murid. Dan yang keenam, isu pendidikan lainnya yang dapat disepakati secara langsung oleh mitra dari kedua belah negara.
Lebih jauh Rerie mengungkapkan, selama 2 tahun, para guru Sekolah Sukma di Aceh berkesempatan mengikuti perkuliahan dari para professor bidang pendidikan dari Tempere University di Sekolah Sukma Bangsa Bireun. Selama program berlangsung juga ada beberapa tailor-made scheme yang memungkinkan para guru sukma merasakan juga atmosfir perkuliahan di Helsinki, serta mengunjungi beberapa sekolah dalam rangka memperluas pemahaman para guru tentang proses pendidikan yang baik dan berkualitas.
Di akhir, Rerie menekankan, bahwa konteks Pendidikan Aceh khususnya dan Indonesia pada umumnya memiliki warna tersendiri dan kompleksitas permasalahan yang tinggi, sehingga diperlukan sebuah inovasi pendidikan yang juga unik. Salah satu langkah awal dari inovasi itu adalah mempersiapkan guru-guru yang memiliki kemampuan dan kompetensi untuk merumuskan bersama modifikasi kurikulum yang responsif dengan kebutuhan Aceh dan Indonesia saat ini.
"Diharapkan kebijakan pendidikan inovatif lainnya akan menyusul dan menunjang perubahan pendidikan yang melibatkan partisipasi aktif guru dari akar rumput," demikian Ririe.
[san]
BERITA TERKAIT: