Berdasar informasi yang dihimpun
globalindo.co, Jumat 2 Desember 2016, terduga makar ini berasal dari tokoh politik senior hingga kalangan muda pergerakan. Termasuk adik kandung Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri merupakan tokoh yang ditangkap. Selain Rachmawati ada juga nama Sri Bintang Pamungkas, Mayjend (Purn) Kivlan Zein, Brigjen (Purn) Adityawarman Thaha, Ratna Sarumpaet, Ahmad Dhani, Rizal Kobar, Eko, Firza Huzein, serta Jamran.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono membenarkan Sri Bintang Pamungkas ditangkap. Pakar Hukum Tata Negara, Yusril Ihza Mahendra juga membenarkan informasi bahwa aktivis Ratna Sarumpaet dijemput polisi di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta.
Berita kasus dugaan makar tersebut cukup mengejutkan sanubari saya. Setahu saya Mayjen Purnawirawan, Kivlan Zen adalah seorang patriot sejati yang bahkan di masa usia lanjut masih berjasa bagi negara dan bangsa Indonesia dengan berperan sebagai negosiator utama dalam membebaskan 18 warga Indonesia yang tersandera di Filipina, 2016.
Sebagai puteri Bung Karno, kecintaan Rachmawati Soekarnoputeri kepada Indonesia tidak perlu diragukan lagi sehingga sulit dipercaya bahwa adik presiden V RI, Megawati Soekarnoputeri ini ingin melakukan upaya makar.
Saya kenal Ratna Sarumpaet sebagai seorang pejuang pembela HAM dan pembela rakyat tergusur yang memang senantiasa gigih menolak kebijakan pemerintah yang menindas rakyat namun bukan berarti beliau berhasrat melakukan upaya makar yang berarti menggulingkan pemerintah yang sah secara inkonstitusional.
Saya mengenal Sri Bintang Pamungkas sebagai seorang aktivis politik sejati seperti yang telah beliau buktikan sejak melawan rezim Orba sampai harus meringkuk di penjara. Adinda menantu Bung Hatta, Sri Edi Swasono ini memang memiliki perangai dan gaya bicara yang ekstrovert bahkan agresif plus ekspolsif meledak-ledak namun sebenarnya cukup sadar konstitusi. Sehingga, sulit diyakini bahwa putera kelahiran Tulungagung ini berniat melakukan upaya makar secara tidak konstitusional.
Bagi saya Ahmad Dani dengan gaya ceplas-ceplos dan garangnya memang sosok anak nakal namun saya tahu bahwa sebenarnya semua itu sekadar semacam kedok pencitraan dirinya demi menarik perhatian publik. Sebagai seorang yang sedang mencalonkan diri untuk menjadi seorang wakil kepala daerah, rasanya ironis apabila anak muda berjenggot ini ingin melakukan makar yang berarti ingin menggulingkan pemerintah sebagai lembaga di mana dia justru ingin bergabung.
Namun jelas semua itu sekadar merupakan persepsi alias tafsir pribadi saya berdasar selera, pendapat, dan pengetahuan terbatas saya sendiri belaka. Dapat diyakini bahwa pihak kepolisian pasti memiliki alasan tersendiri yang lebih bijak sehingga merasa perlu menginterogasi mereka yang diduga berupaya melakukan makar.
Maka sama halnya dengan kasus dugaan penistaan agama, memang sebaiknya kita menyerahkan kasus dugaan upaya makar kepada para penegak hukum. Apalagi telah terberitakan bahwa Yusril Ihza Mahendra siap mendampingi para terduga pelaku upaya makar sehingga dapat kita yakini bersama bahwa hukum akan benar-benar ditegakkan di persada nusantara tercinta ini.
[***]Penulis adalah pendamba penegakan hukum
BERITA TERKAIT: