Sentimen Gubernur Non Muslim Meningkat, Pendukung Ahok Perlu Merenung

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Minggu, 09 Oktober 2016, 12:28 WIB
Sentimen Gubernur Non Muslim Meningkat, Pendukung Ahok Perlu Merenung
Denny JA/Net
rmol news logo Awal tahun ini, tepatnya di bulan Maret, penolakan terhadap gubernur non muslim berada di angka 40 persen. Tetapi di bulan Oktober ini meningkat jadi 55 persen.

Data Lingkaran Survei Indonesia (LSI) ini adalah potret akhir September 2016.

"Pertanyan mengapa isu agama penolakan gubernur non muslim meningkat?" kata Manager KCI-LSI Network, Denny J.A di Jakarta, Minggu (9/10).

Selama lima bulan, ia mencermati para  tokoh dan organisasi aktif mobilisasi.  Dimulai istighosah di Masjid Istiqlal, Jakarta yang menghasilkan Risalah Istiqlal, Demo Aliansi Peduli Umat dan Bangsa, imbauan Ketua MUI, dan Ketua NU Jakarta.
Mobilisasi ini meningkat sebagian disiram bensin oleh cara Ahok sendiri merespon politik identitas. Seperti kasus di Kepulauan Seribu, ia tetap bisa berdialog dengan warga tanpa menyinggung ayat Alquran. Bisakah Ahok bangkit kembali?

"Ahok selalu mungkin bangkit kembali jika ia bisa mengurangi semakin meluasnya anti Ahok, terutama untuk isu agama," terang Denny.

Kenyataannya, sentimen anti Ahok dengan isu agama kini semakin luas dimobilisasi. Denny mengingatkan, ini pelajaran mahal bagi siapapun yang kurang menyukai politik identitas di ruang publik.

Fakta yang terjadi di Provinsi Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat sebenarnya tetap pernah terpilih pemimpin minoritas dalam Pilkada.

"Pendukung Ahok perlu merenung mendalam, apa yang ikut disumbangkan oleh  Ahok? Tentu sentimen politik identitas sudah ada basisnya di Jakarta. Namun mengapa kehadiran Ahok dalam politik Jakarta justru meningkatkan sentimen politik identitas (agama, etnis) itu, bukan mendinginkannya?" tutup Denny.[wid]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA