Akbar mencontohkan, dalam sejarah para taipan pernah memimpin Partai Golkar dengan memegang posisi strategis berbeda-beda. Sebut saja Jusuf Kalla, Surya Paloh, Aburizal Bakrie hingga ketua umum yang sekarang, Setya Novanto.
Menurut Akbar, saat dipimpin Jusuf Kalla sebagai ketua umum dan Surya Paloh yang menjabat ketua dewan penasihat dalam periode 2004-2009, duet pengusaha sukses tersebut tidak bisa mempertahankan perolehan suara Partai Golkar. Pada Pemilu 2004, Golkar meraih 129 kursi di parlemen pusat. Di pemilu 2009, jumlah kursi itu merosot hingga 106 .
"Dipimpin Aburizal Bakrie, suara Partai Golkar di pemilihan umum juga menurun," ujar Akbar, dalam diskusi di kawasan Wijaya, Jakarta Selatan, Jumat (7/10).
Begitu juga keadaan Golkar saat ini yang dipimpin Setya Novanto, tidak lebih baik dibanding para seniornya. Meski demikian, Akbar tetap berharap Novanto bisa membenahi perolehan suara Golkar pada Pilkada serentak 2017 mendatang dan pada Pileg dan Pilpres 2019 mendatang.
"Saya tidak tahu masa Novanto ini masuk kategori apa. Tidak ada jaminan, Golkar dipimpin pengusaha belum tentu bisa mempertahankan suara," ucap Akbar.
[ald]
BERITA TERKAIT: