"Kita menyayangkan adanya aksi anarkis dan agar jangan sampai terjadi lagi. Saya mengimbau semua pihak meredam emosi dan jangan merusak," kata Oesman Sapta yang tengah berada di Pontianak untuk menghadiri peresmian Jembatan Tayan oleh Presiden Joko Widodo di Kabupaten Sanggau.
Oleh karenanya menurut dia, pemerintah wajib menengahi dan mengambil kebijakan yang diterima semua pihak terkait persoalan tersebut.
"Masyarakat kita adalah masyarakat yang damai. Marilah mencari solusi melalui perdamaian," katanya.
Oso, demikian ia disapa, menilai kuatnya penolakan akibat kurangnya sosialisasi kehadiran angkutan umum berbasis online. Padahal, kehadiran angkutan umum berbasis online juga mempunyai tujuan yang baik.
"Semuanya tentu mempunyai tujuan yang baik. Jadi harus dengan kepala dingin menarik benang dalam tepung sehingga tepungnya tidak berserakan. Harus dicari win win solution bagi semua pihak," ucapnya.
Seperti diketahui, pada Selasa 22 Maret 2015, para sopir angkutan umum, khususnya taksi melakukan aksi mogok dan unjuk rasa besar-besaran di kota Jakarta. Mereka memprotes kehadiran angkutan umum berbasis online seperti Grabcar dan Taksi Uber.
Aksi mogok itu membuat macet di sejumlah ruas jalan karena badan jalan dipakai untuk parkir kendaraan taksi. Selain itu ada pula aksi anarkis dengan memaksa sopir lain ikut aksi mogok dan menurunkan penumpang.
[dem]
BERITA TERKAIT: