Demikian dikatakan analis politik, Muhammad AS Hikam. Menurut dia, alih-alih menggelar kompromi politik dengan para pesaingnya, kubu ARB malah memakai jurus menyerang.
Langkah agresif ARB yang dimaksud Hikam adalah menolak rekomendasi Dewan Perimbangan Partai mengenai pentingnya diselenggarakan Munas bersama (rekonsiliasi); ngotot mengganti pimpinan Fraksi dengan mengutamakan pendukung Setya Novanto; meremehkan peran para senior Golkar seperti Akbar Tanjung dan Muladi; juga ngotot mempertahankan kepemimpinan ARB sampai 2019.
Lewat akun facebooknya, pakar politik jebolan University of Hawaii ini menilai jurus maut kubu ARB malah menciptakan pukulan balik (
backlash). Reaksi Dewan Pertimbangan Golkar dan sesepuh lainnya sangat negatif dan mendelegitimasi kepemimpinan kubu ARB.
Implikasinya, lanjut Hikam, terjadi perpecahan di antara para pendukung utama ARB. Di DPR, Fraksi Golkar pecah tiga karena ARB memaksakan Setya Novanto menjadi Ketua Fraksi. Sementara pemerintah semakin bersikap diam dengan klaim ARB bahwa dirinya memiliki keabsahan sebagai Ketua DPP Golkar sampai 2019. Kemenkumham tidak kunjung mengesahkan dan Istana semakin cenderung berpihak pada gagasan Munas untuk rekonsiliasi.
Prediksi Hikam, kubu ARB akan "gulung tikar" jika terus melakukan "kamikaze politik" ini. DPD-DPD tingkat I dan II yang sampai kini masih solid akan bergabung dengan pihak pro Munas rekonsiliasi. Usaha kubu ARB mendekati pemerintah dan koalisi partai pendukung Presiden Jokowi tampaknya tak akan mendapat respons.
Karena itu, Hikam menilai ARB sedang "membunuh" partainya yang notabene pernah berkuasa selama 32 tahun.
Agar hal itu tak terjadi, sarannya, tak ada langkah yang lebih pas selain Munas rekonsiliasi dengan mengangkat para pengurus baru yang tidak lagi terkontaminasi konflik sebelumnya.
Jika hasil Munas nanti masih merepresentasikan dominasi salah satu kubu, maka proses kehancuran partai berlambang beringin itu tak akan bisa dihentikan.
[ald]
BERITA TERKAIT: