Fungsi Intelijen Lemah, Jokowi Didesak Copot Kepala BIN

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/widian-vebriyanto-1'>WIDIAN VEBRIYANTO</a>
LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO
  • Sabtu, 07 Februari 2015, 18:55 WIB
Fungsi Intelijen Lemah, Jokowi Didesak Copot Kepala BIN
marciano/net
rmol news logo Situasi politik dalam negeri yang semakin memanas dan berbagai peristiwa seperti adanya pertemuan agen CIA di Indonesia yang mengkonsolidasikan kekuatannya ,serta bocoran surat Badan Intelijen Negara (BIN) tentang operasi intelijen terkait mata uang rupiah merupakan indikasi bahwa fungsi BIN lemah. Bila hal ini terus terjadi, maka bisa membahayakan keberlangsungan pemerintahan Joko Widodo-JK.

Begitu kata Direktur Eksekutif Indonesia Institute and Public Policy Taufan Hunneman dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Sabtu (7/2).

"Potensi ini sungguh sangat berbahaya apalagi mengingat bahwa banyaknya konflik yang terjadi membuat keresahan dan gejolak di masyarakat," ujarnya.

Untuk itu, Taufan menyarankan agar institusi BIN diperkuat agar lebih maksimal dalam memberikan informasi akurat mengenai situasi keamanan, hukum dan politik terkini. Tidak hanya itu, penguatan BIN juga bertujuan untuk mencegah gesekan-gesekan yang terjadi baik secara horizontal maupun vertikal.

"Saat ini, tupoksi BIN untuk melakukan tindakan prediktif yang persuasif sangat tidak kelihatan sepak terjangnya," ucapnya.

Salah satu jalan agar BIN mampu bekerja optimal, menurut Taufan, adalah dengan melakukan reorganisasi secara total. Termasuk segera mengganti Kepala BIN Marciano Norman.

"Menurut saya, langkah yang paling efektif dilakukan oleh Jokowi adalah mencopot pucuk pimpinan kepala BIN. Sebab bila situasi ini dibiarkan terus menerus akan menggangu program pemerintah," tandas mantan aktivis 98 itu. [ian]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA